TAIGANJA

Beberapa jenis Taiganja

BENDA PURBAKALA

Beberapa Benda Purbakala yang ada di wilayah Sulawesi Tengah.

SITUS MEGALIT

Beberapa Situs Megalit di Wilayah Napu.

SULTENG Daerah 1000 Megalit

Sulawesi Tengah dicanankan sebagai Daerah Seribu Megalit ...

PETA TUA

Peta Tua Wilayah Indonesia.

Tampilkan postingan dengan label Kec. Dolo Selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kec. Dolo Selatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Mei 2025

Sejarah Desa POI

 

Sejarah Desa POI

Sebelum zaman kemerdekaan dahulu dikenal Kampung Poi, Kampung ini pernah pertama kali untuk menjalankan roda pemerintahan selama beberpa tahun yang silam dijalankan oleh tokoh masyarakat Kampung Poi.

Tertulis atau terdengar cerita daerah pedsaan yang subu tumbuh-tumbuhan yang hijau diatas tanah yang datar dan pegungungan ditumbuhi oleh banyak pohon-pohon asam besar (punam poi) dan semak-semak yang masih lebat. Hiduplah skelompok masyarakt rukun dan panai.

Meskipun penduduk-penduduk dalam kehidupan primitive Kampung Poi orang sudah kenal menyebutnya Kampung Poi jarng pendududknya dengan demikian pada saat itu masyarakat bebas membuka lahan pertanian perkebunan dan perladangan yang seluas-luasnya.

Telebih dahulu masyarakat Kampung Poi untuk menentukan hari-hari yang baik untuk penanaman padi maupun penanaman perkebunan.

Kampung Poi lama-kelamaan menjadi ramai dengan adanya pendataan yang ingin menetapan dan tinggal diwilayah itu untuk mencari kehidupan atau nafkah hidup. Kampung Poi sudah dikenal dikalangan penduduk atau desa sekitar atau bahkan terdengar keluar daerah diwilayah kabupaten.

Setelah pembenahan nama administrasi nama desa, maka Kampung Poi dilebur dan ganti nama desa Balongga dan ditetapkan sebagai dusun III dan dusun IV Po. Hal ni berlangsung sekian lama hingga timbul ide atau praksa tokoh- tokoh masyarakat, okoh agama took adat , tokoh pemuda dan tokoh wanita untuk mengadakan pemekaran desa Balongga untuk dibentuk desa baru yaitu desa Poi.

Dan perlu diketahui bersama bahwa berdasarkan surat keputusan perda kabupaten Donggal No.31 tahun 2007 tentang pembentukan Desa Poi Kecamatan Dolo Selatan KKabupaten donggala, bahwa desa Poi menjadi desa definitive dan sekaligus melantik pejabat kepala Desa Poi pertama kali yaitu Bapak ALINURDIN S.SOS dan diresmikan pad hari SENIN PADA TANGGAL 31 DESEMBER 2007 oleh bapak Bupati Donggala DRS. Hi. HABI PONULELE MM.

Adapun Desa Poi diambil dari asal kata bahasa Kaili dalam bahasa Indonesia yang berarti pohon asam, yang kebetulan banyak tumbuh dillereng-lereng gunung dan sekitar pekarangan rumah pendudu sehingga diberi nama Desa Poi.

Tentunya kita semua mengetahui bbersama bahwa buah asam atau fuampoi merupakan salah satu bahan penyedap rasa masaan sayur kaledo, sayur uvempoi, dan ramuan obat tradisional khususnya dilembah kabupaten sigi dan kabupaten Donggala.

 

Letak dan Luas Desa Poi

Desa Poi terletak pada wilayah administrasi Kecamatan Dolo Selatan, dengan luas wilayah 175,5 Ha. dan secara administratif terbagi dalam 3 (tiga) Dusun serta memiliki batas – batas desa sebagai berikut :

Sebelah Utara                                   : Berbatasan dengan Desa Balongga

Sebelah Barat                                   : Berbatasan dengan Pegunungan Desa Palintuma

Sebelah Timur                                  : Berbatasan dengan Sungai Palu/Kecamtan Tanamblava

Sebelah Selatan                               : Berbatasan dengan Desa Pulu.


Sumber : DISINI

Sejarah Desa PULU

 

Secara geografis, Desa Pulu terletak di wilayah Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi. Memiliki luas wilayah 39.10 km2, atau setara dengan 5.88% dari luas keseluruhan wilayah Kecamatan Dolo Selatan, dengan ketinggian 95 mdpl, terdiri dari bentang alam dataran sebanyak 25%, perbukitan 25% dan pegunungan 50% (Kecamatan Dolo Selatan Dalam Angka 2021, BPS SIGI). Jumlah penduduk sebanyak  1.365 jiwa, tersebar di 3 Dusun dan 6 RT, didominasi oleh penduduk yang berprofesi sebagai petani (Kecamatan Dolo Selatan Dalam Angka 2021, BPS SIGI).

 

Secara sosial budaya, mayoritas masyarakat lokal di Desa Pulu, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi adalah rumpun To Kaili Ledo, serta sebagian kecil ada rumpun To Kaili Daa. Baik To Kaili Ledo maupun To Kaili Daa yang ada di Desa Pulu sehari-harinya adalah komunitas petani, dengan aktivitas pertanian tanaman pangan seperti padi dan jagung, peternakan seperti sapi, kambing, ayam, juga perkebunan seperti kelapa, kemiri, pala dan buah-buahan. Terkadang meramu hasil hutan bukan kayu (HHBK) misalnya rotan dan bambu. Dengan kata lain bahwa mereka sangat tergantung pada sumber-sumber agraria pokok seperti tanah untuk lahan pertanian, serta air sebagai sumber irigasi termasuk irigasi tradisional yang mereka sebut dengan “Vunjala”.

 

Berdasarkan hasil kajian risiko bencana (KRB) yang dilakukan oleh Yayasan Ekologi Nusantara Lestari (EKONESIA) atas dukungan dari Yayasan Sheep Indonesia (YSI) pada tahun 2020, ditemukan bahwa ancaman alam yang paling sering terjadi adalah banjir bandang, banjir dan gempa bumi. Sehingga wilayah Desa Pulu termasuk kedalam wilayah dengan riwayat bencana tinggi di Kabupaten Sigi. Dengan frekuensi banjir bandang dan banjir hampir terjadi setiap tahunnya.

 

Berdasarkan hasil pemetaan pasrtisipatif yang dilakukan oleh Yayasan Ekologi Nusantara Lestari (EKONESIA) bersama dengan REMAPPALA dan KTH Uempane Desa Pulu di tahun 2023, luas wilayah Desa Pulu berdasarkan tata batas terluas mencapai 2.775 Ha. Sesuai dengan peta tata guna lahan yang telah dibuat secara partisipatif, terdapat kawasan permukiman seluas 12.79 Ha, kawasan persawahan seluas 155 Ha, kawasan perkebunan seluas 290.21 Ha, serta hutan lindung seluas 2.317 Ha. Selain itu, juga terdapat potensi air panas Kaliali (sepasang air panas) yang dapat dikembangkan sebagai ekowisata berkelanjutan.Sehingga dengan melihat  peta ancaman bencana yang ada, serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya lokal yang tersedia, maka sejak tahun 2020 Agroforestri disepakati sebagai suatu strategi pemulihan lanskap pasca bencana, yang dibangun melalui konsensus sosial bersama antara masyarakat dan pemerintah desa setempat, dengan mendorong pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH) Uempane sebagai organisasi di tingkat tapak yang akan menjalankan restorasi atau pemulihan lanskap pasca bencana berbasis komunitas di Desa Pulu.


Sumber : DISINI

Sejarah Desa WISOLO

 

Suku Kaili Inde Gia yang menjadi penduduk mayoritas Desa Wisolo pada awalnya adalah kelompok-kelompok kecil berbasis keluarga yang bermukim di Boya-boya (kampung) yang tersebar di kaki Gunung Wisolo dan aliran sungai di sekitarnya. Beberapa Boya itu adalah Boya Tabaro dan Boya Parigi yang terletak di sekitar aliran Kuala Ombi (Sungai), Boya Tompu yang terletak di seberang Kuala Sambo, sedangkan Boya Wisolo, Boya Dele, Boya Barangga, Boya Kamande, dan Boya Daeruwa tersebar di kaki Gunung Wisolo. Keluarga-keluarga dari tiap-tiap Boya itu saling berinteraksi dan berkerabat serta memiliki petinggi yaitu Tetu’a Ngata yang biasa dipanggil dengan sebutan Pue. Sehari-harinya, mereka mencari penghidupan dengan berburu hewan, berladang berpindah, dan mengumpulkan hasil hutan. Pada saat berladang berpindah, Masyarakat Adat Kaili Inde Gia mendirikan pondok-pondok di dekat ladang/kebun yang disebut Lompu.

Masyarakat Adat Kaili Inde Gia memiliki “Cerita Tanah Segenggam” yang berisikan pembabakan sejarah yang diturunkan secara lisan kepada orang-orang tertentu. Adapun Pue yang paling diingat oleh Masyarakat Adat Kaili Inde Gia bernama Mijupau yang hidup pada zaman kolonial Belanda. Sedangkan ada dua Pue pendahulu sebelum Mijupau yang diyakini dan masih diingat yakni Pue Sompolemba (zaman kolonial) dan Rimba (sebelum zaman kolonial). Pada zaman Pue Sompolemba, Belanda mendirikan sebuah sekolah rakyat pertama di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Desa Bobo. Selain mendirikan sekolah, Belanda juga menyebarkan ajaran Nasrani Bala Keselamatan yang akhirnya menyesuaikan dengan hukum adat secara damai. Para Pemimpin Kampung itu pada perkembangan sejarahnya dipilih oleh Madika (Raja), penguasa sebuah wilayah yang lebih luas dan terdiri dari beberapa Ngata (kampung). Selain Belanda, masyarakat Kaili Inde Gia juga berinteraksi dengan toke-toke Cina untuk urusan perdagangan damar dan rotan.

Sebelum tahun 1960, Madika Bengge Tai atau Bapak Datu Mamusu memindahkan Masyarakat Kaili Inde Gia dari boya-boya lama ke sebuah wilayah dataran yang saat ini dikenal sebagai Desa Wisolo dengan kepala kampung pertama yaitu Pue Mujipau. Penamaan Wisolo berasal dari nama sebuah pohon yang amat besar yang dulu banyak tumbuh di wilayah gunung. Secara bertahap anggota masyarakatt di boya-boya lama itu membangun rumah di wilayah dataran hingga pada 1960 masyarakat berpindah menetap ke pemukiman baru tersebut. Hanya 1-2 keluarga yang kini bertahan di beberapa Boya Lama seperti di Tabaro dan Parigi. Selain itu, ada juga sebagian masyarakat Kaili Inde Gia yang berpindah ke wilayah lain yaitu sebagian masyarakat Boya Parigi ke Desa Poi dan sebagian masyarakat Boya Daeruwa ke dusun Kora di Desa Sejahtera yang hidup berdampingan dengan masyarakat Kaili Da’a hingga kini. Sejak masa Pue Mijupau, tercatat 14 Kepala Kampung/Desa Wisolo hingga tahun 2018.

Wilayah Desa Wisolo saat ini ditempati juga oleh suku lain seperti Kaili Ledo, Jawa, Bugis, Poso, dan lain-lain. Mereka tetap terikat dengan aturan dan hak sesuai adat Kaili Inde Gia dengan penyesuaian-penyesuaian.


Sumber : DISINI

Sejarah Desa ROGO

 

Wilayah Desa Rogo dalam konteks sosial-kultural merupakan daerah yang didiami oleh etnik Kaili yang dalam keseharianya menggunakan dialeg Ado dan Ledo.

Dalam perkembanganya daerah Rogo teleh dihuni oleh penduduk dan pada saat itu telah terbangun dengan baik pranata sosial sehingga dari hal tersebut susunan dan mekanisme kelembagaanya telah tertata dengan baik. Sejak masuknya bangsa penjajah dan pada hingga tahun 1950-an Desa telah menyandang status sebagai Kampung dan pada tahun 1970-an Kampung Rogo berubah lagi menjadi Desa yang saat itu secara Administrasi Kepemerintahan masuk dalam wilayah Kecamatan Dolo Kabupaten Tingkat II Donggala.

Dalam perkembanganya Desa Rogo juga tidak terlepas dari perkembangan sosial yang ada, sehingga mulai tahun 1950-an Rogo tidak dapat membendung besarnya arus migran dari beberapa daerah. Sehingga saat ini Desa Rogo menjadi satu wilayah yang awalanya Homogen menjadi wilayah Heterogen. Walaupun demikian kondisi kondisi sosialnya, interaksi antar etnik tetap bejalan baik. Hal ini ditandai dengan terjadinya proses asimilasi dan transformasi antar budaya. Bahasa pergaulan sehari-hari menggunakan bahasa Kaili Ado, Ledo dan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa persatuan.

Desa Rogo merupakan salah satu dari 12 Desa yang ada di wilayah Kecamatan Dolo Selatan, yang terletak 1 (Satu) Km arah utara dari ibu kota Kecamatan Dolo Selatan.

Desa Rogo mempunyai luas wilayah 10.125 m²

Adapun batas wilayah Desa Rogo adalah sebagai berikut

 

-   Sebelah Utara berbatasan dengan              : Desa Pulu

 

-    Sebelah Timur berbatasan dengan             : Desa Ramba

 

-    Sebelah Selatan berbatasan dengan          : Desa Baluase

 

-    Sebelah Barat berbatasan dengan               : Pantolo Bete

 

Desa Rogo sebagaimana desa lain diwilayah Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan dengan curah hujan 2000/3000 mm, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di Desa Rogo Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi.

Desa Rogo mempunyai jumlah penduduk 1.719 Jiwa, yang tersebar dalam 04 (Empat) dusun 05 (Lima) RT,karena Desa Rogo merupakan Desa pertanian, maka sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.

 

Sumber : DISINI

Selasa, 24 Desember 2024

Sejarah Desa JONO

 

Desa Jono merupakan desa yang tertua diwilayah Kecamatan Dolo Selatan. Desa Jono sudah ada pada tahun 1915 yang dikenal dengan  nama kampong Jono Sambo yang kepala tina bernama Lante Ngudu dan kepala jaga bernama Rata maku. Dalam Bahasa kaili inde, jono berarti alang-alang. Selama kepemimpinan beliau keadaan masyarakat pada waktu itu masih menyebar dilereng-lereng gunung (hidup berpindah – pindah). Setelah masa kepemimpinan Lanta Ngudu (kepalatina) dan Rata Maku (kepalajaga) berakhir, kemudian kepemimpinan berikutnya dipimpin oleh Yolungata selaku kepala kampong dan Nisagade selaku jurutulis yang baru (1944-1967 ). Dimasa kepemimpinan beliau berusaha menyatukan masyarakat yang berpindah-pindah agar menetap disatu tempat yang disebut Boya/Ngata dan semenjak itu persatuan dan kesatuan sangat erat terjalin antara kepala kampong dan masyarakat, sehingga masyarakat hidup tentram dan damai. Setelah yolungata (kepala Kampung) Wafat kepemimpinan dilanjutkan oleh Musaua Tipadea selaku  kepala kampong dan Nisagade selaku jurutulis (1969-1973).Dan pada tahun 1974-kepemimpinan sementara dipimpin oleh juru tulis yang bernama Nisagade menunggu dipilihnya kembali kepala kampung.

Dengan berjalanya waktu dan berkembangnya zaman kepala kampong berubah nama menjadi Kepala Desa dan kepala jaga berubah nama menjadi Sekretaris Desa. Pada tahun 1979-1984 Toy Tora selaku Kepala Desa dan Nisagade selaku Sekretaris Desa yang baru. Periode berikutnya kembali terpilih kepala desa yang melanjutkan roda pemerintahanya itu Sadrak Sandara selaku Kepala Desa dan Marthen Luther-Surino selaku Sekretaris Desa (1985 -1995). Pada masa berikutnya roda kepemerintahan dipimpin oleh Belsion Karel selaku Kepala Desa dan Sudianto Yolungata selaku Sekretaris Desa (1996-2015). Setelah berakhirnya jabatan kepala desa pada tahun 2015 maka ditetapkanlah sekretaris Desa sebagai penjabat Kepala Desa Sudianto Yolungata untuk menjadi pelaksana tugas Kepala Desa selama 1 (Satu) Tahun. Pada Pertengahan tahun 2016 roda kepemerintahan Desa dipimpin kembali oleh Hezfrianto selaku Kepala Desa sampai sekarang ini.


Berikut merupakan nama dan masa periode pemerintahan Desa Jono sejak tahun 1915-2018, yang resmi tercatat di sejarah pemerintahan desa:

Nama Kepala Desa

 Lante Ngudu        Tahun 1915-1943

Yolungata              Tahun 1944-1967

Musaua Tipadea   Tahun 1968-1973

Nisagade                Tahun 1974-1978

Toy Tora                 Tahun 1979-1984

Sadrak Sandara    Tahun 1985-1995

Belsion Karel        Tahun 1996-2015

Sudianto             Tahun 2015-2016

Hezfrianto        Tahun 2016-Sekarang 



Sumber : Data Tahun 2018


۞ PETA LOKASI Rumahku ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞