Minggu, 18 Mei 2025
Sejarah Desa BORA
Sejarah Desa WATUNONJU
Desa Watunonju terletak di
Kecamatan Sigi Kota, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Penduduk
asli Watunonju berasal dari Sigimpu (benar-benar Sigi) yaitu suatu daerah di
bagian Palolo sekitar 28 km dari Watunonju.
Dahulu daerah Watunonju merupakan hutan dan ketika itu daerah watunonju belum dihuni oleh manusia. Manusia zaman itu hidup berkelompok dan selalu tinggal berpindah-pindah, tetapi ketika telah tumbuh pengetahuan tentang bercocok tanam mereka umumnya tinggal di daerah pegunungan.
Kelompok manusia yang akan menjadi penduduk Watunonju adalah suatu kelompok yang bernamakan Hilonga. Mereka hidup di daerah Sigimpu. Pekerjaan mereka yaitu berburu binatang serta bercocok tanam.
Sebagai kebiasaan setelah panen, mereka mengadakan pesta syukuran yang bernama Movunja (pesta panen). Kemudian untuk kelengkapan acara, sebelum memulai pesta mereka berburu binatang sampai ke bukit yang banyak batu berlubang, menyerupai lesung. Ketika mereka ingin memulai pesta syukuran terjadi bencana banjir karena terjadinya semburan lumpur dari dalam tanah. Banjir itu pun membuat genangan air yang luas dan disebut danau Ranotiko (sekarang ini, danau itu telah menjadi lembah). Bencana itu banyak memakan korban jiwa. Beruntungnya orang yang tidak mengikuti pesta itu selamat dari bencana. Menurut hasil penelitian, orang-orang yang selamat segera melarikan diri ke daerah Lindu, daerah Palolo, daerah Bodi Lemontasi, Vatung Gede dan ada juga yang lari menuju perbukitan yang semula mereka temukan ketika berburu (daerah Watunonju).
Orang-orang dari kelompok Hilonga yang lari ke perbukitan itu (daerah Watunonju) mengadakan upacara adat yang mereka sebut Mampasulemanu. Upacara itu bertujuan untuk mengetahui tentang masalah layak atau tidak layak mereka tinggal menetap di Watunonju. Upacara itu dipimpin oleh tetua adat mereka, dan hasil akhirnya yaitu mereka layak tinggal di daerah itu.
Seluruh daerah itu awalnya merupakan hutan, akan tetapi karena mereka tinggal kini separuh dari hutan itu merupakan tempat pemukiman mereka. Daerah itupun mereka namakan Watunonju (bahasa Suku Kaili yang berarti lumpang batu) kerena banyak mereka temukan lumpang batu atau batu yang berlubang. Akhirnya mereka merupakan cikal bakal penduduk Watunonju.
Penelitian-penelitian lumpang
batu di Watunonju
taman purbakala watunonju
sulawesi tengah
Taman Purbakala Watunonju
Lumpang batu di Watunonju, pertama kali
diteliti oleh dua orang ilmuan sekaligus misioner Belanda yang sempat
mengkristenkan Sulawesi Tengah terutama di Kabupaten Poso yaitu ketika
Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Mereka adalah Albert Qruit dan Adrian.
Setelah mereka mengajarkan agama Kristen di seluruh Poso mereka lalu
mengajarkan agama Kristen di Palu. Setelah itu ia meneruskan misinya ke daerah
Sigi Biromaru. Namun misi mereka sangat ditentang oleh Raja Karanjalemba yang
mempunyai wibawa dan pengaruh yang sangat kuat. Dua orang misioner tersebut pun
pergi dari Watunonju karena keberanian Raja Karanjalemba. Tetapi Albert Qruit
dan Adrian pergi tidak dengan tangan kosong, mereka sempat mengadakan
penelitian yang pertama kali terhadap peninggalan arkeolog di daerah Watunonju
yang berada di Kecamatan Sigi Biromaru tersebut yaitu penelitian terhadap
lumpang batu pada tahun 1898 Masehi.
Khusus orang Sulawesi Tengah yang pertama
kali meneliti adalah Masyudin Masyuda (seorang budayawan Sulawesi Tengah) pada
tahun 1972.
Peneliti yang kedua yaitu Dr. Herry
Sukendar pada tahun 1975. Ia menamukan empat belas buah lumpang batu. Dia
memelihara batu-batu tersebut dengan membuat lembaga kebudayaan di Watunonju
pada tahun 1978 dan dikembangkan lagi tahun 1979. Tahun 1983 Desa Watunonju pun
diresimikan oleh Hariyati Subagyo (mentri sosial saat itu) sebagai suatu objek
sejarah.
Sejak Desa Watunonju menjadi suatu objek
sejarah yang resmi, saat itu pula mulai berdatanganlah peneliti-peneliti yang
lain. Salah satu contohnya antara lain para pelajar yang ingin menyelesaikan
materi mata pelajaran sejarah di sekolah.
Semoga bermanfaat
Sumber : DISINI
Kamis, 15 Mei 2025
Sejarah Desa OLOBOJU
Sejarah Desa Oloboju
Tertulis/terdengar cerita daerah
pedesaan yang subur,tumbuh yang menghijau di atas tanah yang datar ditumbuhi
pohon dan semak yang masih sehat dan lebat,hiduplah sekelompok masyarakat yang
antara lain yang manamakan lingkungan hunian yaitu:KAMBAROA dan BUNGI.Diantara
kedua lingkungan huni tersebut terletak 26 Km di sebelah Selatan Palu.
Jadi kedua lingkungan huni tersebut di bela satu sungai yang pada saat
orang lazim menyebutnya dengan “Nganga Binangga Oloboju”yang membelah kedua
lingkungan huni itu.Maka dengan nama sungai itu ditetapkan dan di satukan kedua
lingkungan huni menjadi Ngata Oloboju.
Ngata Oloboju dari hari ke hari dan berkembang dan terus berkembang maka
pada saat itu masyarakat yang ada di dua
linngkungan itu mengangkat salah seorang sesepuh yang dapat memimpin Ngata
Oloboju untuk yang pertama kali di pimpin oleh salah seorang yang
bernama”LANJO”Pada saat itu masih terhitung Tujuh Kepala Keluarga, dari tahun
ke tahun waktu tetap berjalan maka Ngata Oloboju sudah terdengar dan termasyur
dari masyarakat yang ada di luar Ngata Oloboju dan pada saat itu pula
masyarakat dari kota pun berkeinginan datang dan mendiami Ngata Oloboju untuk
tujuan mengais rezeki yaitu antara lain sebagian dari Besusu,Tatura
Karampe,Tatanga,Poboya dll.maka pada saat itu masyarakat bergabung dengan rasa
damai yang menghuni pertama kali di Ngata Oloboju.
Zaman pun telah berubah dari masa orde lama sampai orde baru di sebutlah
dengan nama Desa Oloboju,dengan perbatasan sebagai berikut:Utara Desa
Bobo,Barat dengan pegunungan,sebelah selatan Dengan Desa Pulu dan Sebelah Timur
Dengan Desa Gumbasa.Jadi dari tahun ke tahun terjadi pergantian antar pemimpin
atau Totua Ngata maka terjadilah peralihan antara pemimpin tersebut di dua
kawasan pemekaran dari desa Oloboju sebelah utara dimekarkan menjadi desa jono
dan sebelah selatan dimekarkan menjadi balongga dan wisolo,sehingga desa
Oloboju merupakan Desa tertua dari tiga Desa pemekaran Tersebut.
susun yang pernah menjabat ataupun menjadi
Kepala Desa atau Kepala Kampung Oloboju sebagai berikut :
Susunan nama-nama Kepala Kampung
sebagai berikut :
1. Lacawu Tahun 1920 Sampai Dengan 1949
2. Mashuri Tahun 1949 Sampai Dengan 1950
3. Labi laisi Tahun 1950 Sampai Dengan 1973
4. Marajona Tahun 1973 Sampai Dengan 1974
5. Labi laisi Tahun 1974 Sampai Dengan 1975
6. Laponggi Tahun 1975 Sampai Dengan 1976
7. Ahmad Tahun 1976 Sampai Dengan 1977
8. Palimaka Tahun 1977 Sampai Dengan 1984
9. Laria lai Tahun 1984 Sampai Dengan 1991
Susunan nama nama kepala desa
Oloboju sebagai berikut:
3. DJUANDA LAMAKARATE. Tahun 1997 sampai dengan 1998 (PJ)
4. IDRUS SINA Tahun 1999 sampai dengan 2000
6. DAHLAN ALWI Tahun 2001 sampai dengan 2006
7. DEWI ANDRIANI. B. YALIRANTE Tahun 2007 sampai dengan 2013
8. DEWI ANDRIANI. B. YALIRANTE Tahun 2014 samapi dengan 2016
9. LATIF Tahun 2016 sampai dengan 2017 (PJ)
10.ARIO GUNAWARMAN Tahun 2016 sampai dengan 2017 (P.A.W)
11.DIAN ANUGRAH,S.STP Tahun 2020 sampi dengan 2021 (PJ)
Sumber : DISINI
Sejarah Desa SOULOWE
Desa Soulowe adalah pecahan dari
desa Watunonju sekitar tahun 1960an yang nama awalnya sering disebut, Ranjambalagi
yang artinya Pohon Asam Jawa karena memang terdapat banyak pohon asam jawa di
daerah desa ini, Karena penduduk didaerah ranjambalagi sudah semakin banyak dan
sangat sulit mengakses untuk beribadah hari raya idul fitri ke Watunonju, ada
seorang tokoh masyarakat yang bernama Yalimuru meminta kepada kepala desa
Watunonju yang masih dipimpin oleh bapak Amin Letawa untuk dijadikan desa yang
berdiri sendiri.
Pada tahun 1968 bapak Amin Letawa
menunjuk langsung, bapak Lahudo Gerorante yang menjabat sebagai imam desa
Watunonju pada saat itu, untuk dijadikan kepala desa pertama yang ada didesa
soulove yang dilantik oleh bapak Bupati Ajis Lamadjido dan bapak Camat Daeng
Ruda Lamakarate, Sedangkan nama Soulove diambil dari sejarah yaitu karena
banyaknya sarang burung elang yang ada dipohon asam jawa yang biasa dilihat
seperti Sou (rumah/pondok) dan Love adalah Elang maka nama desa ini dinamakan
Desa Soulove.
Sumber : DISINI















BERANDAKU