TAIGANJA

Beberapa jenis Taiganja

BENDA PURBAKALA

Beberapa Benda Purbakala yang ada di wilayah Sulawesi Tengah.

SITUS MEGALIT

Beberapa Situs Megalit di Wilayah Napu.

SULTENG Daerah 1000 Megalit

Sulawesi Tengah dicanankan sebagai Daerah Seribu Megalit ...

PETA TUA

Peta Tua Wilayah Indonesia.

Tampilkan postingan dengan label Kec. Marawola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kec. Marawola. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Mei 2025

Sejarah Desa SUNJU

SEJARAH DESA SUNJU KEC. MARAWOLA


Sejarah Desa Tinggede

 

SEJARAH DESA TINGGEDE

Desa Tinggede berdiri berdasarkan penuturan yang diperoleh, baik melalui dokumen dan atau foto maupun penuturan lisan dari para tokoh adat dan tokoh masyarakat bahwa sebelum nama desa tinggede, desa ini bernama “ KAMPUNG MARAWOLA “ dan pada tahun 1964 nama tersebut dipindahkan ke Binangga dan di jadikan sebagai nama Kecamatan yaitu Kecamatan Marawola dengan ibukota “ BINANGGA”. Penuturan tersebut termuat pada Perdes No.2 Tahun 2015 bahwa desa tinggede ada diperkirakan sekitar abad 16 M. Dan apabila dikonfersi dari abad ke masehi, maka berarti abad 16 adalah sama dengan tahun 1600 Masehi, Apabila dikaitkan dengan dokumentasi penunjukan atau pengangkatan kepala Desa pertama tahun 1918 masehi. maka berarti sekitar 318 tahun desa tinggede dipimpin oleh orang yang dituakan dan atau orang tua yang penunjukannya didasarkan pada ketokohan untuk mengatur kesejahteraan dan kebutuhan masyarakat. Pada tahun 1918 terjadi perubahan dari ketokohan dialihkan menjadi Kepala Kampung. Apabilah dihitung sejak kepala kampung pertama dengan yang sekarang ini, maka desa tinggede telah berusia 101 tahun. Apabila sebelum adanya kepala kampung sampai dengan kepala desa, maka desa ini telah berusia 409 tahun dan diperkirakan kelahirannya sekitar tanggal 1 Juli 1918 Dengan pendekatan itu, maka sejak tahun 1600 sampai dengan 1918, sudah barang tentu banyak kejadian termasuk kejadian yang terjadi antara tahun 1918 sampai dengan tahun 1945, setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Desa ini sudah dikunjungi oleh bangsa lain termasuk Bangsa Belanda, Bangsa jepang dan bangsa lainnya. Sebelum diberi nama Desa Tinggede ini bernama “ KAMPUNG KAYU MARAVOLA “,diambil dari Kayu maravola dan hal ini terjadi pada tahun 1964. Kayu maravola

 

merupakan nama desa ini sebelumnya, setelah ada seseorang yang bernama TINGGEDE datang ke wilayah kayu marawola untuk bercocok tanam dan tempat bercocok tanam. Dan seseorang tersebut bernama “ TINGGEDE “ dan tempat yang ditempatinya untuk bercocok tanam adalah kampung Malaya. Kampung malaya ini terdapat di wilayah kayu marawola, dengan demikian dapatlah diduga bahwa “ TINGGEDE” memulai bercocok tanam dikampung ini atau bisa diartikan didusun malaya dan berasal berasal dari kampung seberang atau sungai Palu (Kampung Malaya) dan beliau hidup bertahun-tahun dikampung ini sampai ia wafat. Berdasarkan gambaran itu, maka dapat dipahami bahwa Kayu Marawolah merupakan suatu wilayah yang didalamnya terdapat kampung atau dusun kampung malaya, maka sebagai penghargaan atas pengabdiannya di kampung ini, maka Desa ini diberi nama “ DESA TINGGEDE “. Pada tahun 1964 kayu marawola dijadikan nama kecamatan yaitu “ KECAMATAN MARAWOLA “ dengan Ibukotanya “ DESA BINANGGA “. Dan kampung malaya sampai saat ini tetap masih ada dan bahkan masih digunakan untuk bercocok tanam, dan desa tinggede ketika itu secara administratif berada pada naungan kerajaan palu (Ngata Pitunggota ).




Sejarah Desa PADENDE Kec. Marawola

 

Desa Padende pada zaman dahulu dihuni oleh sekelompok masyarakat di sebuah wilayah yang berada di pegunungan, yang awalnya bernama Boya Tevani yang pemerintahanya masih dipimpin oleh tetua adat setempat. Seiring perkembangan zaman, ada kelompok masyarakat berpindah ke lereng bukit dan berganti nama tempat menjadi Bela Boya. Seiring berkembangnya pembangunan, masyarakat mulai memilih tempat tinggal yang dekat dengan akses jalan utama, yang dibangun pada masa penjajahan Belanda, yang menghubungkan antara desa yang satu dengan desa yang lainnya. Maka mulailah masyarakat membangun rumah yang berdekatan dengan akses jalan yang ada. Letak geografis wilayah yang ada, dilihat dari wilayah sebelumnya merupakan tanah yang datar, maka wilayah yang mulai ramai ditempati masyarakat ini dinamakan Kampung Padende, di mana kata Padende ini berasal dari bahasa Kaili Da’a yang berarti “tanah yang datar atau rata“. Pada awal pemerintahannya juga masih dipimpin oleh tetua adat setempat, Hingga pada akhirnya berubah menjadi Desa Padende, ketika kepemimpinan yang ada sudah dipimpin oleh seorang kepala desa yang menjalankan tugas kepemerintahannya.

Adapun nama–nama para kepala kampung atau kepala desa yang pernah memimpin Desa Padende.



Sejarah Desa SIBEDI

 


Sejarah Singkat dan Asal Usul Desa Sibedi

Sejarah dan asal usul desa sangat mempengaruhi pemberian nama pada suatu daerah. Berdasarkan kisah para Totua Ngata (Orang Tua Dulu), sebelum ada nama Ngata Vau sebelumnya masih Kerajaan/ Ngata Vau saat itu pula nama Totua Ngata  (Orang Tua Dulu) yaitu: Patimina (Magau Pertama Putri), Intowa (Mangau Kedua/ Magau langgo Putra), Timalangi (Mangau Ketiga Putra), Pintu Bulava (Mangau Keempat Putri), Banaoji, Baetia, Songgo, Tande Vau, Sura Gau, Mbuni, Rangi Maya, Ndosa, Lenze, Rayumpole dan Didi.

Awal mula dari terbentuknya nama Desa Sibedi adalah konon kabarnya terdengar dari cerita ke cerita di atas pegunungan Mabere yang sangat lebat, sehingga kelompok penduduk yang masih primitif, yang pada awalnya bernama Ngata Vau yang artinya sebuah pohon yang aromanya kurang sedap seiring perkembangan tidak lama kemudian kelompok masyarakat Vau berpindah lereng Mabere (dusun IV Desa Sibedi sekarang), semakin berkembangnya pembangunan dan masyarakat mulai memilih tempat tinggal yang dekat dengan akses jalan utama yang menghubungkan antara Ngata Vau dengan Ngata yang lainnya. 

Maka pada saat itu pula di bangunlah sebuah balai pertemuan/ rumah adat (Bantaya), karena letak geografis wilayah yang ada, di lihat dari wilayah sebelahnya merupakan tanah datar, maka wilayah yang mulai ramai di tempati dinamakan kata Sibedi. Dinamakan kata Sibedi ini bermula dari seorang serdadu Belanda yang mendapati penduduk yang bernama Mbedi yang sedang membuka ladang, karena tidak fasih berbahasa melayu serdadu disebut menyebutnya Sibedi. Setelah kejadian itu kepopuleran Sibedi menenggelamkan nama Ngata Vau, diganti dengan nama Desa Sibedi. Ketika kepemimpinan yang ada sudah di pimpin oleh seorang kepala desa yang menjalankan tugas pemerintahannya.

Sejarah Singkat Kepemimpinan Pemerintah Desa Sibedi

Desa Sibedi dipimpin langsung oleh kepala desa. Nama-nama Totua Ngata (Orang Tua Dulu)/ kepala desa sebelum dan sesudah berdirinya Desa Sibedi, yaitu sebagai berikut.

Daftar Kepala Desa Sibedi

No.    Periode              Nama Kepala Desa             Keterangan

1.       1908-1913        Bila                                      Totua Ngata (Orang Tua Dulu)

2.       1913-1926        Kundu Lembah                    Totua Ngata (Orang Tua Dulu)

3.       1926-1930        Rayumpole                           Totua Ngata (Orang Tua Dulu)

4.     1930-1940        Mpali                               Totua Ngata 49   (Orang Tua Dulu)

5.       1940-1945        Datu                                   Totua Ngata (Orang Tua Dulu)

6.       1945-1955        Juje                                    Totua Ngata (Orang Tua Dulu)

7.       1955-1965        Daeng Kaju                          Totua Ngata (Orang Tua Dulu)

8.       1965-1966        Yunus Yoduluma                  Totua Ngata (Orang Tua Dulu)

9.       1966-1978        Yongga Kundu                     Totua Ngata (Orang Tua Dulu)

10.     1978-1979        Rotja Tuka                            Kepala Desa

11.     1979-1980        Pali                                       Kepala Desa

12.     1980-1990        Ndela Datu                           Kepala Desa

13.     1990-1992        Yongga Kundu                    (Karteker)

14.     1993-2000         Ajarudin Sauru                    Kepala Desa

15.     2000-2001        Drs. Sarpin Peweko             (Karteker)

16.     2001-2007       Tamrin                                   Kepala Desa

17.     2007-2008        Daeng Tarusu Parampasi, SH (Karteker)

18.     2008-2009        Ferdin                                    Kepala Desa

19.     2009-2010       Husen Lamami                       (Karteker) 50

20.     2010-2016       Supriono M. Soedjiman         Kepala Desa

21.     2016-2016       Pawalangi Andi Sui                (Karteker)

22.     2016-2022       Irianto Mantiri                        Kepala Desa

Sumber: Data Sekunder Kantor Desa Sibedi Thn 2023

 

Sejarah Singkat Masyarakat adat VAU / MABERE

 

Masyarakat yang dahulunya adalah masyarakat nomaden/berpindah-pindah dari suatu tempat ketempat yang lain,dari pinembani turun ke daerah bernama vau dan masyarak tersebut menamakan dirinya masyarakat vau karena suda menempati daera vau. Masyarakat ini terus berpindah mendekati lembah dan menemukan suatu daerah yang pertama kali mereka temukan di daerah tersebut ialah bedi maka daerah tersebut mereka namakan sibedi, di sibedi tersebut mereka membuat suatu acara adat yang bernama vunja dan menebang pohon marisa untuk di buatkan suatu gendang, tetapi batang pohon tersebut tidak dapat di angkat setelah pemangku adat meminta kepada sang pencipta (no karna) batang pohon tersebut terbang kedaerah kamonji. Dengan adanya kejadian tersebut para pemangku totua adat membuat suatu musyawara adat(mosiromu) maka hasil keputusan masyarakat adat vau membuat suatu kerajaan yang bernama vau. Dan keturunanya menyebar ke 5 Ngata (kampung) sebelum kolonial masuk yaitu sibedi (Mabere), padende, porame,balane,dan uwemanje. Maka semua daerah tersebut adalah daerah vau bersarkan pembagian yang arif dan bijaksana oleh totua nu ada (orang tua adat).


Tugas dan Fungsi Pemangku Adat

Ntina : Pemimpin yang tertinggi

pobisara : di tunjuk Ntina menjadi juru bicara untuk menyelesaikan perkara atau sengketa serta aturan-aturan

jegugu : pengawal pemimpin

suro : pesuru yang di tunjuk oleh ntina

Todea : rakyat (komunitas)


Batas Wilayah

Batas Barat         Bulu (gunung)

Batas Selatan     Wilayah Adat Rompi Desa Bomba

Batas Timur        Lembah

Batas Utara         Binangga Matimpa

.

Kamis, 15 Mei 2025

Sejarah Desa Beka

 

Sejarah Desa

 

Penamaan Desa Beka berasal dari mitos yang menjadi kepercayaan masyarakat Desa Beka pada umumnya yang diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, bahwa di jaman dahulu pernah terjadi peristiwa yang akan dideskripsikan secara singkat sebagai berikut:

 

Desa Beka yang dahulunya bernama Valiri berasal dari kata Nevalirisi. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “jadi di sini” hal tersebut disebabkan oleh kepercayaan masyarakat setempat yang meyakini bahwa segala permasalahan yang terjadi akan mendapatkan penyelesaian yang baik jika permasalahan tersebut dimusyawarahkan di Valiri, atau dengan kata lain secara sederhana bahwa penyelesaian segala permasalahan akan jadi disini atau “ nevalirisi” demikianlah tempat tersebut dikenal dengan nama Valiri.

 

Pada masa-masa berikutnya terjadi suatu peristiwa yang menggemparkan masyarakat Valiri, namun dalam tulisan ini terdapat dua versi yang berkembang dimasyarakat saat ini yang menceritakan kejadian tersebut, adapun dua versi tersebut akan dipaparkan berikut ini:

 

1.    Versi Pertama

 

Dalam Versi ini dikatakan bahwa di jaman dahulu terdapat sebuah kejadian yang terjadi di wilayah Valiri yaitu ditemukannya seorang bayi, ada yang mengatakan bayi perempuan dan ada pula yang mengatakan bayi laki-laki. Namun yang menjadi substansi dari peristiwa ini adalah ditemukannya seorang anak manusia dari belahan Bambu, dari peristiwa inilah menjadi cikal bakal perubahan nama dari Valiri menjadi Desa Beka secara defenitif.

 

2.    Versi Kedua

 

Menurut Versi ini bahwa dahulunya di Wilayah Valiri terjadi peristiwa yang sama dengan Versi pertama, namun perbedaannya adalah bahwa anak tersebut ditemukan di bagian Batu. Batu ini dikenal dengan nama Vatu Motoe yang hingga saat cerita ini disusun, batu tersebut masih ada dan menjadi salah satu situs sejarah di Desa Beka sehingga sebagian besar masyarakat mempercayai Versi ini sebagai awal perubahan nama desa, dari Valiri menjadi Desa Beka

 

Dalam rekam sejarah kepemimpinan yang ada di wilyah desa ini bisa setelah diketahui perubahan wilayah Valiri ditetapkan sebagai Desa, berikut akan disajikan daftar Kepala Desa yang dapat diketahui melalui wawancara dan dokumen tertulis yang dapat dilakukan dalam penelusuran sejarah kepemimpinan yang ada di Desa Beka.


Sumber : DISINI


Sumber lain : ....

Desa Beka yang dimana sebelum ditetapkan menjadi wilayahh Desa Beka, wilayahh tersebut disebut Valiri oleh Orang Tua dulu semaking berkembangnya zaman masyarakat dan tokoh-tokoh yang ada di wilayah Valiri bermusyawarah menetapkan wilayahh tersebut menjadi sebuah desa yang disebut Desa Beka. Nama Beka diambil sebab menurut orang tua dulu di temukan seorang bayi Laki-Laki di sebuah batu yang terbelah atau orang sebut (Vatu Motoe) .

Masyarakat Desa Beka dulunya itu adalah wilayah Valiri yang dihuni oleh masyarakat Lando. Kedatangan mereka ke wilayah itu tujuan pertamanya yaitu adalah berburu rusah. Mereka membangun pondok- pondok di wilayah tersebut. Mereka menamakan wilayah tersebut sebagai Valiri dikarenakan banyak peristiwa yang mereka selesaikan di wilayah tersebut seperti penyelesaian masalah dari wilayahwilayah kecil yang berada di wilayah valiri sendiri. Permukiman masyarak Lando petama di wilayah Valiri lalu terletak dibagian pertengahan kampung, lokasi permukiman pertama itu berdekatan dengan hutan Ranjuri.Masyarakat Desa Beka, sangat mempercayai bahwa sejarah peralihan nama wilayah Valiri diganti menjadi sebuah desa dikarenakan terjadi kejadian yang sangat luarbiasa (gempah) bumi yang sangat dasyat, akibat gempah bumi yang sangat dasyat tadi itu mengakibatkan batu besar yang berada di sebelah barat permukiman Desa Beka terbelah, disitulah seorang kakek menemukan seorang anak baiy laki-laki, anak baiy laki-laki itu ditemukan diatas batu besar yang terbelah. pada tahun 1921 wilayah Valiri resmi menjadi sebuah Desa dan di kepalai oleh kepala Desa pertama yang bernama Borogo. Terjadinya dinamika kulutral yang terjadi di Desa Beka yang mana dapat di lihat pada tradisi Nogane-gane (pemberi sesajen) yang mana di lakukan ketika terjadinya bencana alam dan tradisi pengobatanBalia yang kini telah tergerus zaman. Terdapat pula peninggalan masyarakat Valiri yang masih ada saat ini dapat kita temukan di Desa Beka yaitu Bantaya dan Vatu Motoe (Batu Besar) yang terbelah dan menjadi sejarah awal mulanya terbentuknya Desa Beka.

Sumber : DISINI

۞ PETA LOKASI Rumahku ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞