TAIGANJA

Beberapa jenis Taiganja

BENDA PURBAKALA

Beberapa Benda Purbakala yang ada di wilayah Sulawesi Tengah.

SITUS MEGALIT

Beberapa Situs Megalit di Wilayah Napu.

SULTENG Daerah 1000 Megalit

Sulawesi Tengah dicanankan sebagai Daerah Seribu Megalit ...

PETA TUA

Peta Tua Wilayah Indonesia.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Desa. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Mei 2025

Sejarah Desa PEWUNU

 

Kisah Sejarah dan Bentuk Peninggalan yang berada di Desa Pewunu, Kabupaten Sigi.

Pewunu memiliki lintasan sejarah yang panjang ketika mengulas kesejarahan dan bentuk peninggalannya. Pewunu menjadi sebuah Distrik pada tahun 1901 ditandai dengan berakhirnya masa kemaradikaan Pombuya sebagai Maradika terakhir adalah Pue Minukati. Sesudah maupun sebelum tahun 1900-an berbagai peristiwa terjadi di daerah ini. peristiwa-peristiwa itu dikenal adalah bentuk perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Pue Yoralibu dan Pue Tandalonggo Randalemba.

bukan hanya itu saja Pewunu juga menyimpan sejarah jauh sebelum kedatangan bangsa barat ke tanah kaili diantaranya kisah Perpindahan Topo Ende dari pegunungan Njilalaki yang sekarang bernama Pegunungan Nokilalaki. Perang antar etnis atau yang mereka sebutkan dengan perang antar klan dan Perang Todolo serta perang-perang lainnya yang masih menyimpan kisah misteri tertulis dalam sejarah kelam di tanah kaili.

Tak ketinggalan pula mengenai Sejarah Kemaradikaan Pombuya yang hilang atau sengaja dihilangkan. Kerajaan Pombuya banyak menyimpan kisah sejarah dimulai dari Maradika pertama yang dijatuhi hukuman kemudian kisah Pue Mangumpu Lemba atau bergelar Tandelangi sampai ke Maradika terakhir yaitu Pue Minukati. Awalnya, sebelum menjadi sebuah desa yang bernama Pewunu terlebih dahulu mereka menetap disebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari pewunu sekarang. seiring berjalannya zaman maka wilayah administrasi pemerintahan desa pewunu mulai berpindah di daerah sekarang yang telah menjadi Desa bagian dari Kabupaten Sigi.

Adapun Nama-nama lokasi bersejarah di pewunu adalah, Ngata Masae, Bulumpe eva, Pekavinara, Nggota, Kamate love, Raranggavana, Bulu Ndate, Ranggapopo, Pekavantu, Pantosu Lamale, dan masih banyak lokasi-lokasi bersejarah lainnya.



Sumber : DISINI



Sumber lain : 


Sejarah Terbentuknya Ngata TORO

Desa Toro, Kulawi

     Toro merupakan nama salah satu desa di kecamatan Kulawi, kabupaten Sigi, propinsi Sulawesi Tengah. Wilayah desa Toro dikelilingi Taman Nasional Lore Lindu. Di desa Toro terdapat sebuah rumah adat yang dinamakan Lobo. Hingga saat ini, masyarakatnya masih memiliki adat dan kebudayaan yang kuat. Pemerintahan di Desa Toro masih dipengaruhi oleh Tetinggi Adat antara lain, Totua Ngata, Mardika Ngata, dan Tina Ngata.

     Desa Toro memiliki cerita sejarah yang mistik. Diceritakan bahwa masyarakat asli Toro adalah korban penyerangan makhluk halus yang berhasil melarikan diri. Konon masyarakat asli Toro sebelumnya tinggal di suatu daerah yang bernama Malino.

 

Cerita Rakyat: Sejarah Desa Toro

     Alkisah pada musim panen dahulu kala, anak-anak desa Malino suka bermain gasing-gasingan bersama tiap sore hari. Mereka bermain setelah bekerja membantu orang tua di kebun.

     Suatu ketika di tengah keramaian anak-anak desa, datanglah seorang anak yang aneh. Mereka tidak menyadari kalau anak aneh itu adalah anak makhluk halus dari negeri Bunian. Anak aneh itu tidak menggunakan gasing dari kayu seperti yang lainnya. Gasingnya terbuat dari emas.

 

     Anak-anak desa pun heran, mereka tidak mengetahui dari mana asal anak aneh itu. Mereka juga tidak mengetahui kemana perginya ketika selesai bermain. Kejadian ini anak-anak desa perhatikan beberapa hari. Anak aneh itu datang dan pergi secara tiba-tiba.

 

     Setelah berhari-hari, anak-anak desa berani untuk menceritakan kejadian itu kepada orang tua mereka. Para orang tua pun ingin membuktikan perkataan anak-anaknya. Sehingga pada suatu ketika, para orang tua mengikuti anak-anaknya saat bermain gasing.

 

     Saat menyaksikan ramainya permainan, para orang tua pun juga melihat anak aneh itu. Hal ini membuat para orang tua percaya akan cerita anak-anak mereka.

     Kemudian, dari mulut ke mulut cerita tentang anak aneh itu tersebar ke seluruh masyarakat.  Cerita ini membuat heboh masyarakat Malino. Oleh karena itu, masyarakat Malino pun mengadakan musyawarah besar. Musyawarah tersebut berakhir dengan keputusan untuk membunuh anak aneh itu dan mengambil gasing emasnya.

 

     Ketika sore hari berikutnya anak aneh itu datang kembali untuk bermain gasing bersama anak-anak desa. Ternyata keputusan musyawarah tersebut benar-benar dilaksanakan oleh masyarakat Malino. Seketika para orang tua menangkap anak aneh itu dan merampas gasing emasnya. Setelah ditangkap, tanpa ampun anak aneh itu mereka bunuh.

 

      Masih pada hari yang sama, saat menjelang matahari sore terbenam makhluk halus dari negeri bunian tidak lain yaitu orang tua anak aneh itu datang ke Malino. Mereka mendapati anaknya sudah tak bernyawa. Sehingga para makhluk halus itu pun sangat murka terhadap masyarakat malino.

     Sesaat kemudian datanglah tangan-tangan terbang yang bersenjatakan parang menuju kerumunan masyarakat Malino. Ternyata tangan-tangan terbang itu adalah para makhluk halus yang hanya menampakkan tangan dan senjatanya. Para makhluk halus itu menuntut balas atas pembunuhan yang dilakukan masyarakat Malino terhadap seorang anak dari bangsa mereka. Maka terjadilah pertumpahan darah besar-besaran.

 

     Hampir seluruh masyarakat Malino menjadi korban balas dendam makhluk halus tersebut. Di tengah-tengah berjatuhnya korban ada beberapa orang dari masyarakat Malino berhasil melarikan diri. Walau bagai telur yang telah diujung tanduk, namun mereka pun selamat dari maut.

 

     Masyarakat Malino yang berhasil melarikan diri terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok lari ke arah Timur, dan kelompok lainnya lari ke arah Barat. Desa Malino pun menjadi desa mati yang mengerikan.

     Kedua kelompok yang telah berhasil menyelamatkan diri pun terpisah semakin jauh. Masing-masing kelompok melakukan perjalanan yang sangat panjang. Tinggal berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dan mengalami berbagai macam peristiwa.

 

     Bertahun-tahun lamanya, regenerasi telah terjadi. Kedua kelompok yang selamat telah memiliki anak dan cucu. Setelah hidup berpindah-pindah, keturunan orang Malino yang lari ke arah Timur menemukan suatu lembah yang mereka jadikan tempat untuk tinggal menetap. Lembah itu dikelilingi bukit dan dialiri oleh sungai.

     Begitu pula keturunan orang Malino yang lari ke arah Barat, mereka juga memutuskan untuk menetap di suatu tempat. Tak disangka-sangka tempat menetap mereka hanya berseberangan sungai dengan tempat menetap keturunan orang Malino yang lari ke arah Timur. Kedua kelompok ini masih tidak saling mengatahui satu sama lain karena rentang waktu yang sangat panjang.

 

     Pada suatu ketika, kedua kelompok ini saling bertemu. Keduanya bertemu saat berburu hewan di hutan. Keduanya berkenalan satu sama lain. Sambil menunggu hewan buruan mereka bercerita dan bercanda. Topik cerita mereka pun menjurus tentang silsilah keturunan dan sejarah hidup. Mereka terkejut saat tahu mereka sama-sama keturunan orang Malino.

 

     Karena telah mengetahui keduanya adalah sama-sama keturunan orang Malino, mereka memutuskan untuk bersatu kembali. Mereka menyatukan wilayah kekuasaan tempat tinggal mereka yang hanya berseberangan sungai.  Wilayah itu pun mereka namakan Toro atau yang biasanya mereka sebut Ngata Toro.

      Toro dalam bahasa kulawi berarti "Sisa", sedangakan Ngata berarti "Kampung". Mereka menamakannya dengan nama tersebut karena ingin mengenang bahwa mereka adalah sisa-sisa orang Malino. Mereka adalah sisa-sisa orang Malino yang bertahan hidup dalam penyerangan makhluk-makhluk halus dahulu kala. Keturunan orang Malino pun hidup menetap di Toro hingga saat ini.

Sekian.

 

(narasumber oleh, Totua Ngata Toro : TOLAU TARETOTO & RAHMAN PEPULOI)

(tulisan dan gambar oleh, M. ARMAND ZURHAAR | kakarmand.blogspot.com)


Sejarah Desa UWEMANJE

 


Manusia merupakan mahluk sosial yang dapat hidup dengan sesamanya dan akhirnya membentuk komunitas hidup dalam kelompok kecil hingga terbentuk suatu masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat inilah manusia menciptakan berbagai keperluan hidupnya dengan mengelola alam lingkunganya, dengan kata lain masyarakat menciptakan kebudayaannya sendiri dan mencatat itu semua sebagai sejarah kehidupannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan tidak ada kelompok masyarakatpun yang tidak mempunyai sejarah, bila masyarakat tertentu mempunyai awal perkebangan hidupnya, demikian halnya Desa Uwemanje yang menjadi lokasi penelitian ini juga mempunyai sejarahnya.

Kata Uwemanje terdiri dari dua kata yaitu “UWE” yang artinya “AIR” dan “MANJE” adalah “orang yang menemukan air tersebut”. Nama Uwemanje dipakai sejak tahun 1973 sebelumnya bernama Desa Balaroa II, perubahan nama tersebut disebabkan karena ada tiga desa yang memiliki nama yang sama, kemudian pemerintah mengusulkan pergantian nama Desa kepada masyarakat bersama tokoh-tokoh masyarakat menerima usul tersebut dan sepakat menganti nama Balaroa menjadi Uwemanje, karena memiliki nilai sejarah bagi masyarakat.

 

Kepala kampung atau Desa yang memerintah masyarakat dari pertama sampai sekarang yaitu :

 

1.      Ritugunju

 

2.      Letumore memerintah selama ± 20 tahun

 

3.      Maraua memerintah selama ± 20 tahun

 

4.      Djido memerintah sejak 1960-1975 tahun

 

5.      S. Repa memerintah sejak 1975-1984 tahun

 

6.      S. Ndoro memerintah sejak 1984-1985 tahun

 

7.      P. Ndoro memerintah sejak 1985-1994 tahun

 

8.      Palit memerintah sejak 1994-2004 tahun

 

9.      Raha Ganda memerintah sejak 2004-2006

 

10.  Zakaria Memerintah Sejak 2006-Sampai

 

11.  Erik Riksen Sekarang

 

Pada masa kepemimpinan Sebelum Pemimpin desa Rituguju masyarakat masih hidup berkelompok digunung-gunung dan masih hidup berpindah-pindah. Kemudian oleh Rituguju menghimpun masyarakat yang terpisah dalam satu lokasi untuk dijadikan perkampungan tetap, dan setelah terbentuknya perkampungan tetap masyarakat terus melakukan pembangunan dan mengalami perkembangan-perkembangan. Pada masa kepemimpinan Djido nama Balaroa II berganti menjadi uwemanje. Masuknya mahasiswa KKN UNTAD pertama kali di Desa Uwemanje juga memberikan pengaruh pada perkembangan Desa ini, pergantian periode kepemimpinan terus terjadi sampai sekarang dipimpin oleh Raha Ganda Desa Uwemanje terus membenahi dari dalam bebagai aspek kehidupan seperti pendidikan, ekonomi, sosial budaya.

Sejarah Desa BALAROA PEWUNU

 


Desa Balaroa Pewunu merupakan desa baru yang memisahkan diri dari desa induk Pewunu pada tahun 2012,  berdirinya desa ditetapkan pada 20 november 2012 melaui Perda Kabupaten Sigi Nomor 41 tahun 2012  tentang Pemekaran Desa Balaroa Pewunu Kecamatan Dolo Barat Sigi Sulawesi Tengah. Secara geografis, desa Balaroa Pewunu berada di sebelah barat ibu kota kabupaten Sigi.

Sejarah Desa BALUMPEWA

 

Sejarah Desa BALUMPEWA

Tertulis/terdengar suatu cerita dari satu wilayah hunian komunitas masyarakat Yang amat subur di atas tanah pegunungan sebelah barat, wilayah yang ditumbuhi Pepohonan dan rerumputan yang hijau,  orang-orang sekitarnya menyubut wilayah ini“ BOLONTOKUE “. 

Selain memiliki tanah sangat subur untuk bercocok tanam juga sangat baik digunakan untuk wilaya pemukiman, sehingga dalam kurun waktu tertentu sekelompok komunitas etnik Kaili dengan sub-etnik Inde (Topo Inde) yang menghuni wilaya Vayolipe mencoba melakukan perpindahan ke wilaya Bolontokue. Meskipun hidup dengan kesederhanan ditengah keterbatasan dan pola kearifan tradisional yang memiliki, membuat kehidupan mereka amatlah bersahaja pada kondisi yang ada. Pola kehidupan yang masih sangat tradisional ini dilakukan oleh masyarakatnya melalui kehidupan sehari-hari baik dalam hal bekerja dikebun/bertani. 

Bertahun-tahun sudah lamanya masyarakat Bolontokue bekerja keras ditengah ketenangan dan kesederhanaan untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya melalui pola interaksi yang dilakukan baik interaksi sesama masyarakat maupuninteraksi dengan alam disekitarnya membuat lahirnya satu kebiasaan yang menjadi nilai-nilai dan norma kehidupan. Melihat kebutuhan sehari-hari baik dalam hal pekerjaan khususnya pertanian dan berburu masih menggunakan alat yang sangat terbatas maka seorang orang tua yang bernama “PEVA” berinisiatif menanam serumpun Bambu yang dalam bahasa lakolnya disebut “BALO”.

Balo (bambu) tersebut tumbuh dan berkembang dan akhirnya bambu tersebut sangat banyak membatu masyarakat Bolontokue melakukan pekerjaan terutama dikebun dan berburu. Karna dengan banyaknya fungsi/kegunaan bambu yang ditanam oleh PEVA, maka oleh masyarakat Bolontokue sesekali menyebut wilayanya dengan sebutan “BALUMPEVA”. Kerena oleh masyarakat Bolontokue lebih akrab menyebut wilaya Bolontokue dengan nama Balumpeva maka muncul kesepakatan untuk mengganti nama Bolontokue menjadi Balumpeva. Yang sekarang menjadi Balumpeva (Balumpewa)

Etnis, Bahasa dan Religi

Mayoritas etnis di desa Balumpewa  adalah suku Kaili Inde.  Orang Kaili terdiri atas beberapa sub suku dan menggunakan dialek yang berbeda-beda, maka munculah istilah: Kaili Ledo, Kaili Rai, Kaili Ija, Kaili Unde, Kaili Ado, Kaili Edo, Kaili Tara, dan sebagainya. Dikatakan sebagai Orang Kaili karena adanya kesamaan budaya dan adat istiadat di kalangan mereka, sebagaimana dikemukakan oleh Mattulada (1985:21) bahwa: Orang Kaili mengidentifikasi diri sebagai To Kaili karena adanya persamaan dalam bahasa dan adat istiadat leluhur yang satu, dipandang menjadi sumber asal mereka, bahasa Kaili dalam arti Lingua-Franca dalam kalangan semua To-Kaili.  argumentasi dan pandangan bahwa meskipun terdiri atas beberapa sub suku, orang Kaili sebenarnya masih memiliki hubungan darah atau berasal dari satu nenek moyang yang sama, hal ini diakibatkan oleh adanya perkawinan antar sub suku Kaili itu sendiri (Natsir  dan Haliadi, 2015). 

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat untuk komunikasi khususnya antar warga, mayoritas warga menggunakan bahasa Kaili dengan dialek Inde, namun untuk komunikasi dengan pendatang serta dengan orang diluar warga Balumpewa, masyarakat menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan , untuk agama yang dianut penduduk desa Balumpewa mayoritas memeluk agama Kristen Balai Keselamatan. Secara kultural pegangan agama ini didapat dari hubungan kekeluargaan ataupun kekerabatan. Selain itu juga keyakinan beragama berkembnag berdasarkan turunan dari orang tua ke anaknya.

Sejarah Kepemimpinan Desa





Sejarah Desa DODA

 

Batas Utara dengan Kelurahan Balaroa

Batas Selatan dengan Balane

Batas Barat dengan Pegunungan Gawalise

Sebelah Timur dengan Kelurahan Duyu.


 Sejarah Singkat Masyarakat  Adat 

Pantapa adalah salah satu Sub komunitas masyarakat adat yang ada di wilayah ke adatan besar Kamalisi Sulawesi Tengah yang kini pada umumnya bermukim diwilayah lereng dan pegunungan Kamalisi.

Komunitas masyarakat adat Pantapa tersebut memiliki sejarah yang sama dan mereka hidup dari satu komunitas lainnya yang cukup besar di kamalisi secara adminitrasi berada di wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kota Madya Palu, bahkan wilayah adatnya kamilisi sampai kewilayah adminitrasi provinsi Sulawesi Barat.

Wilayah Pantapa berasal dari kebiasaan masyarakat yang pertama kali mendiami Kampung Tua bagian gunung kamilisi dengan cara menghangatkan diri dekat api di sebut NO TAPA. Sistem kepemimpinan di wilayah adat pantapa itu sendiri pemimpin tertinggi di sebut ntina. Masyarakat adat kamilisi memilih mogau dengan mosiromu (musyawarah) dan menempatkan mogau tersebut diwilayah yang ditunjuk oleh ntina.

Batas Wilayah

Batas Barat         Bulu (Gunung) Puncak Kamalisi bts Wilayah Ona (Desa Lewara) Kec.Marawola Barat Kab.Sigi

Batas Selatan     Sungai matimpa Bts Wilayah Vau (Desa Balane) Kec.Kinovaro Kab. Sigi

Batas Timur        Lembah Palu Bts Wilayah Duyu, Tanggiso, Taiparanggu (Kel.Duyu) Kec. Tatanga Kota Palu

Batas Utara         Sungai Ta bts Wilayah Vaenumpu (Desa Denggune) Kec.Kinovaro Kab.Sigi


Sumber : DISINI

Sejarah Desa KANUNA

 

Sejarah Singkat Desa Kanuna Kecamatan Kinovaro

          Awal mula terbentuknya Desa Kanuna, Sebelum tahun 60-an beberapa komunitas mendiami wilayah pegunungan sebelah barat Desa yang sekarang terbentuk. Mereka adalah para peladang berpindah. Perkampungan pertama disebut sebagai ‘Vunja Tondo’ yang sampai sekarang dijadikan tempat ritual adat suku Kaili Da’a. ‘Vunja Tondo’diambil dari nama wilayah kerajaan kecil yang berdiri di masa lampau dan kemudian menjadi wilayah pemukiman saat ini.

Struktur sosial orang Da’a secara umum bersifat egalitiarian, wilayah walaupun masyarakat pernah hidup dalam sebuah kemadikaan (kepemimpinan seseorang berdasarkan keturunannya), tetapi tidak berarti kemudian mereka berperilaku feodal. Masyarakat Kaili Da’a saat ini tidak mengenal strata sosial yang memilah-milah anggota masyarakat berdasarkan status dan atribut tertentu. Orang Kaili Da’a khususnya yang bermukim di Desa Kanuna hanya mengenal struktur lembaga adat yang dijadikan oleh seorang tetua adat sesuai hasil penunjukan masyarakat setempat.

Pada tahun 70-an. Awal Desa Kanuna terbentuk dan berkembang, saat itu beberapa kelompok suku Kaili Da’a yang bermukim di hutan pegunungan dan bekerja sebagai peladang berpindah-pindah. Mereka satu sama lainya tinggal dengan jarak berjauhan yang kemudian menyatu dan bermukim  didataran Kanuna, pemukiman baru itu disebut Desa Kanuna, seperti nama pohon yang tumbuh diwilayah itu, yaitu (Pohon Kanuna). Desa Kanuna pada awalnya termasuk dalam Wilaya Kecamatan Marawola, Kabupaten Donggala dan berbatasan langsung 3738 dengan wilayah Kota Palu (Kelurahan Kabonena). Desa Kanuna sebelumnya lebih dikenal dengan sebutan Desa Tondo Gunung.Desa Kanuna adalah sebuah wilayah penyangga antara suasana kaki pegunungan Gawalise dengan wilayah lembah Kota Palu. Perjalanan waktu berikutnya, beberapa Kecamatan memisahkan diri dari Kabupaten Donggala kemudian membentuk Kabupaten Sigi Biromaru.

Aspirasi masyarakat yang menginginkan daerah otonom sendiri terpisah dengan Kabupaten Donggala memiliki argumentasi logis berupa memperpendek rentan kendali, peningkatan efisiensi dan efektifitas pelayanan publik, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemekaran dengan pembentukan kabupaten Sigi Biromaru diyakini sebagai upaya akselerasi pembangunan di Wilayah Selatan Kabupaten Donggala. Alasan lainya adalah kuatnya identifikasi historis yang menyatakan wilayah Kabupaten Donggala bukan menjadi bagian dari Kabupaten itu sendiri (Almudaris, 2008 : 97). Salah satu wilayah yang masuk ke wilayah baru tersebut adalah Desa Kanuna yang menyatu dalam Kecamatan baru yakni Kecamatan Kinovaro.Berdasarkan pada mobilitas penduduk serta akses terhadap pelayanan umum, wilayah Desa Kanuna lebih dekat dengan daerah Kota Palu. Melalui diskusi yang telah dilakukan oleh Walikota Palu dengan warga Desa Kanuna, wilayah Desa Kanuna ingin dimasukan ke dalam daerah administratif Kota Palu, namun hal tersebut mendapat penolakan dari warga Desa. Alasan yang disampaikan adalah Desa Kanuna merupakan satu kesatuan pemukiman etnis Da’a yang tersebar bermukim di wilayah Gunung Gawalise Kecamatan Kinovaro Kabupaten Sigi Biromaru.

Letak Geografis Desa Kanuna Kecamatan Kinovaro Kabupaten Sigi.

Secara geografis, desa kanuna berada terletak diwilaya kecamatan kinovaro Kabupaten sigi profinsi sulawesi tengan, desa kanuna memiliki luar desa 2.400m dan dibagi menjadi 3 dusun, adapun batas wilayah Desa Kanuna secara geografis berbatasan antara lain:

1. Sebelah Utara : Desa Kalora

2. Sebelah Selatan : Desa Daengune

3. Sebelah Barat : Kaki Gunung Gawalise

4. Sebelah Timur : Kelurahan Kabonena

Dari letak geografis, Desa Kanuna berada di daerah kaki Gunung Gawalise dan di apit oleh Desa tetangga, dan sebelah timur terdapat Kelurahan Kabonena.




Sejarah Desa RARAMPADENDE

 

Sejarah Desa Rarampadende

Alkisah adalah suatu Daerah merupakan Daerah yang subur, tumbuhan yang menghijau di atas tanah yang datar ditumbuhi semak yang sangat lebat, dan tanpa penghuni.

   Pada tahun 1916 terjadi pengungsian besar-besaran warga Tawaeli ke arah selatan Kota Palu dikarenakan oleh pertikaian antara pemerintah kolonial Belanda dengan Madika (Raja) Tawaeli maka sampailah mereka di Desa Sigampa (Kaleke sekarang) oleh Madika (Raja) di Wilayah Sigampa (Kaleke) menganjurkan untuk segera masuk kedalam (Rara) untuk membuka pemukiman dan lahan pertanian baru maka para pengungsi tersebut berangkat ke sebelah selatan Desa Sigampa namun diperjalanan terjadi dimana daerah yang dilalui sangat angker sehingga para pengungsi tersebut berlari-lari kecil (Nodende) masuk ke dalam wilayah yang baru untuk membuka pemukiman dan pertanian, pada saat itu pula warga asli yang berada di sebelah timur wilayah baru tersebut yaitu Dolaa, Tuva dan Lene membaur dengan para pendatang untuk membuka lahan pemukiman dan pertanian baru. Sebagia bukti 50 % warga Rarampadende adalah keturunan warga Tawaeli (Kayumalue)

   Pada tahun 1917, beberapa orang tua memperjuangkan Desa ini untuk berdiri sendiri yang disebut dengan Kampung Rarampadende yang artinya Rara adalah dalam dan Dende adalah berlari kecil. Untuk berdiri sendiri antara lain sebagai berikut :

1.     Nama                   :   Toma Tandu (Tombolotutu)

2.     Nama                   :   Ranggepala

Kedua beliau ini meghadap Swapraja Sigi Dolo terus ke Donggala menghadap Residen untuk memperjuangkan Kampung ini untuk menjadi Kampung Rarampadende. Akhirnya permohonan tersebut diterima, dan tahun itu pula yaitu 1917 resmi menjadi Desa Definitif yaitu Desa Rarampadende.

Demikianlah sekilas sejarah singkat terbentuknya Desa Rarampadende.

Sumber : Totua Kampung

Adapun Pejabat Kepala Desa Rarampadende sejak terbentuknya tahun 1917 sampai saat ini adalah sebagai berikut :


No
Periode
Nama Kepala Desa
1
1917 – 1927
TOMBOLOTUTU (TOMA TANDU)
2
1927 – 1935
RANGGEPALA AJITONDE
3
1935 – 1940
MATIRANTE (TOIBENGGE)
4
1940 – 1949
TODO LAWADJU
5
1949 – 1954
TOTOH DATUPAMUSU
6
1954 – 1957
MALAHUKU
7
1957 – 1959
INTJE ARBE DATUPALINGE
8
1959 – 1969
I.H MAKANU
9
1969 – 1972
DJAMALUDIN LATADENGKO
10
1972 – 1977
DST H. DG. MAROTJA
11
1977 – 1978
ASNUDIN ANDI TJALA
12
1978 – 1979
AHYAR BUDO HASAN
13
1979 – 1987
MOH. SALEH
14
1987 – 1992
DST H. DG. MAROTJA
15
1992 – 2000
NDJULI LABIDO
16
2000 – 2008
SENERMAN LAWADJU
17
2008 – 2009
ASWADIN TOMBOLOTUTU
18
2009 – 2010
DJAYADIN DJ
19
2010 – 2016
IKRAN NUHULI A.Ma
20
2016 - Sekarang
AL’AOFIN LIDO



Sumber : DISINI

Sejarah Desa PESAKU


Sejarah dan Kebudayaan Masyarakat

Sejarah Desa

Menurut sejarah,Tidak ada suatu petunjuk berupa tulisan atau catatan/prasasti yang ditemukan tentang asal usul Ngata/Kampung (Desa Pesaku), yang ada hanyalah tuturantuturan dari generasi ke Generasi berikutnya, bahwa Pesaku dahulu adalah salah satu wilayah ngata atau kampung yang dihuni oleh satu komunitas karena terjadinya perpindahan dari 7 (Tujuh) orang yang bersaudara yakni: Ganantina, Yompalemba, Renggelemba, Rajalemba, Rajamani, Kasaria, dan Yolu.

Dari ketujuh orang bersaudara ini bersepakat untuk melakukan perpindahan dari Bulu (Gunung) Ongu Ntovaiyo dan Bulunti. Maksud dari perpindahan yang dilakukan adalah mencari daratan yang dapat digunakan untuk pemukiman dan bercocok tanam. Dalam Perjalanan yang dilakukan salah seorang dari mereka tersebut yakni Ganantina tidak meneruskan perjalanan bersama saudaranya yang lain, Ganantina hanya menyinggahi satu wilayah yang bernama Sitangga. Walaupun, Ganantina sudah singgah namun keenamnya tetap meneruskan perjalanannya sampai menemukan wilayah yang memungkinkan untuk pemukiman dan lahan. Dengan perjalanan waktu yang dilalui dan lamanya waktu yang digunakan untuk menempati wilayah yang ada, maka keenam bersaudara tersebut mencoba melakukan perundingan, pokok utama yang dibahas adalah pemberiaan nama wilayah yang mereka huni. Dan akhirnya mereka menyepakati nama wilayah yang mereka huni tersebut diberi nama “Gelumpa” dengan batas saat itu disepakati bahwa dibagian utara berbatasan dengan Wera dan sebelah selatan berbatasan dengan Marasila.

Hari demi hari berjalan membawa alur cerita kehidupan dan wilayah Gelumpa kian menjadi bertambah penghuninya akibat dari proses keturunan yang dilakukan. Dengan semakin bertambahnya jumlah penghuni Gelumpa maka Gelumpapun menjadi satu wilayah kesatuan hukum yang didalamnya tumbuh nilai nilai dan norma-norma kehidupan sosial, sehingga dengan kondisi tersebut wilayah Gelumpa menjadi sati wilayah yang disebut Ngata Gelumpa.

Dalam proses kehidupan sosial, Ngata Gelumpa juga mengalami peradaban sosial hal itu terjadi pada saat masuknya seorang bernama Rambulemba yang berasal dari daratan kulawi da proses interaksipun terjalin hingga Rambulemba berhasil mempersunting seorang putri asli Ngata Gelumpa. Namun proses asimilasi ini juga tidak bisa terjalin begitu lama karena dalam perjalanan hubungan tersebut muncul konflik yang berujung pada kekerasan, akhirnya konflik antara komunitaspun terjadi di Ngata Gelumpa hingga memakan korban jiwa.

Di tengah konflik antara komunitas yang terjadi saat ini juga bertepatan dengan lahirnya seorang bayi dari hasil perkawinan antara seorang Putri Ngata Gelumpa Dengan Rambulemba sehingga Anak atau bayi yang lahir tersebut diberi nama “Pesaku”.

Kelahiran anak yang bernama “Pesaku” sangat memberikan arti tersendiri bagi perseteruaan dari kedua komunitas, karena kedua komunitas yang berseteru kini harus menghentikan perseteruaannya. Dan Akhirnya Nama “Pesaku” bukan hanya diabadikan sebagai nama dari anak yang lahir tersebut tapi nama “Pesaku” juga diabadikan sebagai nama wilayah Ngata Gelumpa dan mulai saat itulah Gelumpa berubah menjadi Pesaku.

Berdasarkan alur sejarah bahwa sebelum wilayah ini menyandang nama desa berdasarkan kebiasaan melalui susunan wilayah administrasi lokal wolayah pesaku disebut Boya atau Ngata dan nama tersebut juga berubah pada saat bangsa Belanda menguasai Negara Kesatuan Republik Indonesia Ngata Pesaku berubah menjadi kampung dan ini sampai tahun 1960-an dan pada tahun 1970-an Ngata atau kampung Pesaku berubah lagi menjadi desa dan perubahan ini terjadi dengan sistimatis karena adanya UU No. 5 tahun 1975 tentang pemerintahan Daerah dan UU No. 5 tahun 1979 tentang pemerintahan Desa.

Etnis, Bahasa dan Religi

Di Desa Pesaku, mayoritas etnis adalah suku Kaili khususnya Kaili Edo,”, walau ada etnis pendatang lainnya seperti dari etnis jawa dan bugis yang datang di desa Pesaku tapi sangat sedikit seklai, pendatang biasanya bisa dari perantaun daerah lain atau menjalin hubungan ikatan kekeluargaan dengan masyarakat Desa Pesaku, dan dalam keseharianya masyarakat desa Pesaku menggunakan bahasa Kalili dengan dialek Edo untuk berinteraksi dan tidak jarang menggunakan bahasa Indonesia saat berinteraksi dengan masyarakat di luar desa atau pendatang.

Sedangkan , untuk agama yang dianut penduduk desa Pesaku mayoritas memeluk agama islam. Secara kultural pegangan agama ini didapat dari hubungan kekeluargaan ataupun kekerabatan. Selain itu juga keyakinan beragama berkembnag berdasarkan turunan dari orang tua ke anaknya, dan ini kemudian menjadikan agama islam sebagai agama mayoritas penduduk desa Pesaku.

Kesenian tradisional

Kesenian Tradisional yang merupakan warisan budaya masih Nampak dalam masyarakat Desa Pesaku yaitu kesenian khas budaya Kaili  salah satunya yaitu Tarian Pamonte dan Tari Pokombu. Namun saat ini kesenian itu sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan, disebabkan kurangnya regenerasi atas kelestarian kesenian tradisional tersebut, serta tidak adanya perhatian atau pembinaan dari pihak pemerintah dalam hal ini adalah dinas terkait.

Tarian Pamonte

Pamonte artinya menuai padi, tarian Pamonte terispirasi dari aktivitas dan kebiasaan gadis – gadis kaili saat musim panen, tarian ini menggambarkan kegiatan  saat musim panen tiba, bagaimana para petani mengelola padi menjadi beras seperti proses memetik, menumbuk, menapis dan lain - lain, Pakaian penari Pamonte biasanya menggunakan kebaya merah yang dihiasi benang emas. Tarian pamonte diiringi oleh music tradisonal seperti Ngongi, ganda, dan tarian ini di iringi oleh nyanyian syair adat, dalam tarian pamonte dipimpin oleh seoerang penghulu yang disebut sebagai tadulaku yang berperan memberikan aba – aba pada penari lainya

Tarian Mokambu

Tarian Mokambu, mupakan tarian penyambut tamu, tarian ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memeakai sarung bercorak dan memakai selendang kuning di kepala. Penari biasanya membawa piring berisi beras, yang akan dihamburkan kepada para tamu dan sekaligus memohon doa untuk kebaikan para tamu.

Legenda atau Mitologi

Mitos dalam masyarakat akiali merupakan bagaian dari keseharian masyarakat, yang artinya mitos tidak pernah hilang dari masyarakat, yang kemudian bahkan  diyakini sebagai kebenaran sejarah, Mitos nmerupakan bagaian dari tradisi lisandari masyarakat cerita tersebut berkembang yang pola pewarisanya melalui tradisi lisan (Nuraedah, 2015) 

Di desa Pesaku, terdapat Mitos yang masih diyakini oleh sebagian masyrakat, yaitu bahwa gempa bumi diakibatkan oleh tiang dunia telah di tanduk oleh kerbaunya Sawerigading yang sedang terlepas dan mengamuk, akibat tandukan tersebut diyakini membuat tanah bergeser serta bergerak.

Sawerigading diayakini sebagai seoerang pelaut dariluar negeri, yang singgah ke Teluk Kaili untuk menemui dan mengawini tunanganya yang bernama We Cundai, Cerita tentang Sawerigadeng juga dikaitkan  dengan Tana-Kaili, saat terjadi pertarungan anatara aning milik Sawerigagading ynag bergelar La-Bolang (Si-Hitam) dengan se-ekor belut (lindu), La Bolang berhasil menyergab belut dan kemudian belut keluar dari lubangnya, lubang bear yang menjadi temapt tinggal belut setelah kosong dan runtuh, akhirnya menjadi danau yang kini disebut sebagai danau lindu. Dan belut dibawa olleh la Bolang ke utara dalam keadaan meronta – rontadan menjadikan lubang yang dialiri oleh air laut yang deras, aiar yang mengalir dengan deras seprti air bah yang tumpah, menyebabkan keringnya air kaili, maka terbentuklah lembah palu dan terjemalah tana-kaili (Nuraedah, 2015)

Kearifan Lokal Desa.

Kearifan lokal yang dahulu pernah diterapkan dan saat ini mulai ditinggalkan adalah tradisi Vunja Mpae, tradisi Vunja Mpae dilaksanakan setiap musim panen tiba, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, dan diyakini juga sebgai bentuk untuk mengharmoniskan hubungan sosial anatar masyarakat serta di dalam keluarga.  Penyenggara teknis dalam upacara Vunja Pae seperti pertama, Bule, predikat seseorang yang dianggab menjadi bule karena mempunyai kekuatan atau kesaktian dalam upacara, tugas Buleadalah mengambil, membawa dan ,membangun, atau menanam tinag vunja berupa bambu, batang pianag atau kelapa, Bule yang bertugas harus keturuanan Pondhohigi, nama ornag yang dianggab sakti dan ornag yang pertama kali yang ditugaskan mengambil bamboo sebagai tiang vunja, kedua, Bayasa penyebuta atau predikat yang disandang seseoarang atau orang – orang tertentu yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan lam gaib, atau arwah leluhur (nenek moyang). Bayasa bertugas pula dalam ritual – ritual yang berkaitan dengan kehidupan di bumi yang berhubungan dengan kesejahteraan dan kesuburan.ketiga adalah Puepanga, pemilik sawah yang punya hajad dan juga pemilik sawah yang terkena serangan hama, yang juga akan menyiapkan ayam atau kambing 1 ekor yang akan dipersembahkan dalam upacara selain itu juga menyaipaka kalopa, ketupat, bibit padi tiga ikat (Nuraedah,2015) 

Tradisi Vunja Mpae, di dalam proses penyelenggaraanya mengandung nilai  seperti (Nuraedah,2015) : seperti Kerajian yang maknanya akan membuat seseorang yang malaksanakan tradisi tersebut akan menjadi ulet dan gigih berjuang untuk kesempurnaan, tolong menolong ( Nusiale Pale), Sintuvu (Gotong Royong), Ucapan syukur, Kekeluargaan, memunculkan nilai kearifan local. 

Sejarah Kepemimpinan Desa

Menurut penuturan  Kepala Adat desa pesaku, Desa pesaku merupakan salah satu desa tertua yang termaksud  7 Desa Nata “Pitu nggota” yang ada sejak zaman kerajaan,   Berdasarkan asal usul kepemimpinan di Sigi-Dolo terdapat  dua kategori besar lembaga yang melahirkan pemimpin yakni dari Libu Nto Ndeya dan pemimpin dari Libu Nu Maradika{1}.  Kategori pemimpin dalam Libu Nto Ndeya di Kerajaan Sigi berdasarkan pembagian wilayah yang disebut wilayah adat “pitu nggota.” Dalam wilayah ini ada Totua Nu Ngata (orang tua bagian kerajaan), Totua Nu Boya (orang tua wilayah), dan Totua Nu Kinta (orang tua kampung). Pemimpin-pemimpin adat ini yang bertugas dan berfungsi dalam pelaksanaan adat istiadat masyarakat di Kaili Kabupaten Sigi (Natsir  dan Haliadi, 2015)

{1}Kategori kepemimpinan dalam dewan pemerintahan kagaua atau di  Kerajaan Sigi Dolo berdasarkan strukturnya. Kerajaan Sigi Dolo dalam badan kemagauan atau dalam lembaga eksekutif disebut sebagai “Libu Nu Maradika”, yang susunannya sebagai berikut: Madika Matua, sebagai Ketua Dewan dan merangkap Perdana Menteri dan Urusan Luar Negeri, bertanggung jawab pada Magau (raja);  ,Bali Gau menyusun dan merubah segala sesuatu apabila bertentangan dengan adat dan undangundang negara; Punggava, sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan merangkap Menteri Dalam Negeri; Galara, sebagai Menteri Kehakiman; dan masih banyak badan – badan laian, Badan-badan inilah yang bertanggung jawabmemutar roda pemerintahan Tanah Kaili. Baik ketua maupun anggota, diangkat dan diberhentikan oleh Magau (raja) atas usul dan persetujuan Baligau (Ketua Pitunggota).  (Natsir  dan Haliadi, 2015)

Sedangkan untuk kepemimpinan awal di desa pesaku disebut sebgai kepala kampung dan ketika itu yang duduk sebagai kepala kampung untuk pertama kalinya di desapesaku adalah Djako Mamungka, berikut adalah nama kepala kampung atau kepala desa di Pesaku.



Kepemimpinan Tradisonal 

Kepemimpinan tradisonal yang terdapat di desa Pesaku adalah kepemimpinan lembaga adat yang secara struktur terdapat ketua, sekretaris , bendahara serta anggota lainnya. Lembaga adat di desa pesaku ini baru terbentuk pada tanggal 4 September 20188 yang terstruktur sampai ke Kecamatan dan Kabupaten. Menurut ketua lembaga adat tujuan terbentuknya Lembaga Adat, tidak lain untuk mengayomi persoalan adat di desa, umumnya persoalan rumah tangga, pertengkaran antar warga maupun dengan warga di luar desa serta  persolan sosial lainya.

Misalkan terjadi konflik antara desa dengan desa, contoh konflik terjadi anatara desa Pesaku dengan desa laian. Dan kemudian saat sidang adat (antar desa yang berkonfllik) ditemukan bahwa warga Pesaku yang menyulut konflik tersebut atau pihak yang melakukan kesalalaha, maka lembaga adat akan memberikan saksi berupa 3 ekor kambing yang akan diserahkan kepada korban. Saksi berikutnya misalkan saat terdapat waraga desa Pesaku melakukan hungungan intim dengan bukan pasangan sah-nya (suami – istri)  atau mengambil isri  atau suaminya seseorang dengan kata lain melakukan perzinahan, maka saat sidang adat menemukan kebenaran atas perbuatan perzinahan tersebut , lembaga adat akan memberikan sangsi berupa  2 (dua) ekor kerbau, 1 (satu) buah dulang, uang 25 riyal, kain putih 1 pcs, dan piring adat sebnayat 25 biji. Namun kebanyakan aturan  adat yang ada di desa Pesaku  belum tertulis.

Aktor Yang berpengaruh

Jika aktor di lihat dari proses kemapuan untuk mempengaruhi orang lain sehingga  orang lain tersebut terpengaruh dan akhirnya mengikuti. Maka pengaruh itu dapat diartikan sebagai kekuasaan dan wewenang, kekuasaan disini berarti merujuk pada kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain atau pihak lain dan kedua wewenang  merupakan kekusaan seseorang atau sekelompok orang yang mendapat dukungan atau pengakuan dari masyarakat. Kekeuasaan dan wewenang tersebut timbup dari kepatuhan masyarakat atas nilai dan aturan yang diyakininya.

Di Desa Pesaku, terdapat 3 ( tiga) nilai atau aturan yang sangat dipatuhi oleh masyarakat, Pertama, aturan – aturan kelembagaan formal ( Negara ) yang terwakili oleh kepemerintahan desa dan apartusnya hingga tingkatan RW atau RT,. Secara formal actor yang berpengaruh di masyarakat desa Pesaku yang dianggab  tokoh yang berpengaruh secara struktural (formal),  adalah Kepala desa karena merupakan perwakilan langsung pemimpin formal (yang diakui Negara)  yang ada di desa, selanjutnya aktor yang punya pengaruh langsung di masyarakat secara formal adalah ketua RT  karena merupakan pihak yang pertama kali menjadi rujukan terkait penyelesaian  permasalahan yang ada di tingkat terkecil structural yang ada di desa. Kedua aturan agama, warga desa Pesaku   yang sangat menekankan nilai - nilai religius sebagai dasar nilai - nilai interaksi dalam bermasyarakat, maka menempatkan tokoh agama menjadi salah satu bagian aktor penting yang menjadi rujukan masyarakat. Terakhir, Ketiga Aturan adat, kepatuhan atas nilai – nilai adat  yang ada yang terdapat pada aturan adat istiadat Kaili yang juga  menjadi bagian dari yang tidak terpisahkan dengan kehidupan sosial masyarakat desa, dimana pengaruh adat yang  diwakilkan oleh Kelembagaan adat di desa cukup punya peran yang signifikan dalam menata kehidupan sosial  warga di desa.



Sumber : DISINI

Sejarah Desa BALAMOA

 


Sejarah Desa KALEKE

 


Sejarah Desa KALEKE

Desa Kaleke merupakan salah satu desa tertua di Kecamatan Dolo Barat. Nama ‘Kaleke’ diambil dari salah satu jenis rumput yang banyak tumbuh di wilayah desa ini yang disebut dengan rumput Malekei. Desa Kaleke saat itu masih hidup berkelompok dengan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Desa Kaleke sebelumnya bernama Sigampa yang berada di sebelah Timur Sungai Palu. Dikarenakan saat itu sering terjadi pertempuran antar desa yakni Desa Bora dan Desa Pakuli, maka masyarakat Desa Sigampa berpindah ke Desa Kaleke. Pada waktu masyarakat Kaleke pindah di wilayah Kaleke, terjadi pula pertempuran dengan rumpun Topo Inde. Pertempuran ini dimaksudkan untuk membantu masyarakat Pewunu yang dikejar oleh Topo Inde.

Pertempuran tersebut dimenangkan oleh masyarakat Kaleke. Sebagai rasa terima kasih dari masyarakat Pewunu, maka dihadiahkan wilayah yang cukup luas sebagai tempat tinggal dan bercocok tanam yang kemudian dikenal dengan nama Desa Kaleke hingga saat ini.

Pada dasarnya tidak ada keterangan yang pasti kapan berdirinya Desa Kaleke. Pada waktu kerajaan Sigi Dolo berdiri, Desa Kaleke berkembang menjadi salah satu desa “Kota Pitunggota” yang meliputi Desa Kotarindau, Kotapulu, Pesaku, Pulu, Baluase, dan Desa Bangga. Dahulu Desa Kaleke wilayahnya sangat luas meliputi Rarampadende, Maku, dan sebagian wilayah Desa Tulo. Karena perkembangannya, Desa Rarampadende, Maku, dan Desa Tulo berdiri sendiri menjadi desa definitif sendiri.

Kondisi Geografis dan Demografis Desa

Secara geografis, Desa Kaleke merupakan salah satu dari 12 wilayah yang ada di wilayah Kecamatan Dolo Barat yang mempunyai luas 1.444.000 M2. Sebelah Utara Desa Kaleke berbatasan dengan Desa Pewunu, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Rarampadende, sebelah Timur dengan Desa Maku, sebelah Barat dengan Desa Balumpewa dan Kaluku Tinggu. Desa Kaleke mempunyai iklim yaitu musim kemarau dan musim penghujan, dengan kelembapan udara yang cocok untuk daerah pertanian. Desa Kaleke mempunyai 3 (tiga) dusun, yaitu Dusun 1 Kaleke berada di Kasolana, Dusun 2 Kaleke berada di Wera, dan Dusun 3 Kaleke berada di Matayona.


Sumber : DISINI



Desa Wisata Kampung Merah Putih

Kampung Merah Putih atau nama lain dari Desa Kaleke merupakan salah satu desa yang bertempat di Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Desa Kaleke berjarak 15 Km dari Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie.

Secara Geografis, Kaleke berada di tengah Wilayah Kabupaten Sigi sehingga Kaleke sangat strategis untuk dijadikan sebagai titik kumpul. Selain itu, Desa Kaleke berbatasan dengan 4 desa di Kecamatan Dolo Barat. Di sebelah Utara berbatasan dengan Pewunu, sebelah selatan berbatasan dengan Rarampadende, sebelah timur berbatasan dengan Maku, dan sebelah barat berbatasan dengan Balumpewa

Kaleke juga memiliki ratusan sumber mata air dan pertanian yang melimpah sehingga Pada masa menanam dan memanen padi, orang-orang dapat menyaksikan kearifan lokal (Nokololio dan Novunja) sebagai salah satu Identitas Indonesia. Juga terdapat Maestro Seni budaya, pengrajin parang/suvenir, serta pembuat alat musik tradisional Kaili.

Kaleke merupakan desa bersejarah yang banyak melahirkan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Oleh karena itu, selain pernah menjadi Ibu Kota terakhir Kerajaan Dolo, juga sebagai tempat pengibaran Bendera Merah Putih pertama di lembah Palu (Kaili) pada masa penjajahan serta terdapat Makam pahlawan Nasional Indonesia "Tombolotutu". Bahkan, peninggalan prasejarah serta jejak sejarah peradaban Nusantara bisa ditemukan di Kampung Merah Putih, Desa Kaleke.

Diksi Kampung Merah Putih tidak hanya dimaknai sebatas simbol warna saja tetapi sudah menjadi DNA di Desa Kaleke yang akan ditemukan ketika sudah mendatangi atau berkunjung secara langsung. Berdiri di tempat yang sama namun berada di benua yang berbeda. Orang-orang juga akan merasakan bagaimana berada di antara 2 dimensi Kebudayaan air dan tanah yang masih menyisakan peninggalan-peninggalan dari masa megalitikum hingga Dinasti Song dan Qing.


Sumber : DISINI

۞ PETA LOKASI Rumahku ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞