TAIGANJA

Beberapa jenis Taiganja

BENDA PURBAKALA

Beberapa Benda Purbakala yang ada di wilayah Sulawesi Tengah.

SITUS MEGALIT

Beberapa Situs Megalit di Wilayah Napu.

SULTENG Daerah 1000 Megalit

Sulawesi Tengah dicanankan sebagai Daerah Seribu Megalit ...

PETA TUA

Peta Tua Wilayah Indonesia.

Tampilkan postingan dengan label Kec. Sigi Biromaru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kec. Sigi Biromaru. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Mei 2025

Sejarah Desa SIDONDO

 


Sidondo berasal dari nama sejenis pohon yang banyak tumbuh di daerah Wisolo Sambo Kecamatan Dolo. Setelah terjadi suatu Peristiwa yang menimpa masyarakat yang mendiami wilayah tersebut yaitu penyakit yang disebabkan oleh ulat (dalam bahasa Kaili disebut Tantadu). Wabah tersebut menimpa semua jenis tanaman sampai bahan makanan dan peralatannya.

 

Sebab dari peristiwa tersebut, maka masyarakat di wilayah itu menggungsi ke wilayah baru tersebut, sudah menjadi perkampungan/desa dengan nama Sidondo.

 

Sidondo juga berarti Gotong - royong yang diambil dari kata Nosidondo artinya bekerjasama. Sehingga sampai sekarang kata Sidondo tetap dipertahankan warga masyarakat sebagai nama Desa. Adapun awal terbentuknya Sidondo sekitar tahun 1900an, dahulu masuk dalam wilayah yang paling luas termasuk Sidondo. Pada masa itu Kerajaan Sigi mengangkat  Latupa sebagai pemimpin di Sidondo dengan sebutan Galara. Setelah Latupa mangkat dia digantikan oleh Sorea berasal dari Desa Kalukubula untuk memimpin Sidondo sampai dengan Tahun 1917.

 

Berakhirnya Kepemimpinan Sorea, Sidondo di Pimpin oleh Latjali berasal dari Kampung Baru Palu dengan sebutan Kepala Kampung. Latjali adalah pemimpin terlama di Sidondo ± 35 Tahun.  

 

Sejak Latjali melepas Kepemimpinan Kampung Sidondo sampai sekarang. Desa Sidondo sudah 13 (Tiga belas) kali terjadi pergantian Kepala Desa yaitu :

 

 

 

Usaman Lawira                               Tahun 1953 – 1956

Ahmad Lawira                                Tahun 1956 – 1958

Yusuf Laubaro                                Tahun 1958 – 1962

Anton Dibbetz                                 Tahun 1962 – 1967

Bidu Rumpu Pande                         Tahun 1967 – 1969

Yusuf Laubaro                                Tahun 1970 – 1974

Anton Dibbetz                                 Tahun 1974 – 1978

Kasuli                                              Tahun 1980 – 1981

Andi Idrus Dg. Palisu                     Tahun 1981 – 1983

Isdjamin Datu Rante                       Tahun 1983 – 1987

Daniel Kindangen                           Tahun 1987 – 1994

Isman Yalisingi                               Tahun 1994 – 2003

Nasrun Abbas,  SH                         Tahun 2003 – 2008

Nasrun Abbas,  SH                         Tahun 2008 – 2013

Achmad, A.Ma                                Tahun 2013 Sampai sekarang   


Sumber : Data Tahun  2015

Sabtu, 17 Mei 2025

Sejarah Desa LOLU

 


Desa Lolu adalah sebuah Desa yang terletak diwilayah Kecamatan Sigi Biromaru dan merupakan Ibukota Kabupaten Sigi yang sekaligus sebagai pusat Pemerintahan Kabupaten Sigi. Desa Lolu berdiri pada tahun 1960 yang merupakan salah satu Desa pecahan dari Desa Biromaru yang kemudian dipecah menjadi 6 Desa yaitu Desa Mpanau, Desa Lolu, Desa Pombewe, Desa Loru dan Desa Petobo.

Lolu berasal dari bahasa kaili ledo yang diambil dari kata Pelolu yang berarti jalan potong atau jalan pintas. Hal ini disebabkan pada zaman  dahulu kala wilayah yang sekarang menjadi Desa Lolu sering dijadikan sebagai jalan potong oleh masyarakat yang tinggal diwilayah pegunungan timur (Bulu Bavona) dan masyarakat yang tinggal diwilayah pegunungan barat (Bulu Mpanau).

Dengan melewati berbagai hal / proses pemekaran yang sesuai dengan aturan hukum yang berlaku dari penentuan nama Desa, pembagian wilayah, pembagian kekuasaan Desa dan lain-lain. Akhirnya pada tahun 1962 Lolu resmi menjadi Desa definitive dengan ditunjuknya Kepala Desa Lolu yang pertama yaitu Bapak Tauhid Palirante.

Sejarah Desa LORU

 

SEJARAH SINGKAT DESA LORU

Desa loru akan diuraikan sebagaimana studi-studi antropologi pada bagian uraian singkat tentang sejarah masyarakat sudah sebagai masyarakat teroganisir. Desa loru yang menjadi lokasi penelitian sebelumnya merupakan desa tertua dari desa-desa yang ada dikabupaten sigi. Desa loru menurut sejarah sudah ada kurang lebih 300 tahun yang lalu, Desa loru pertama dihuni oleh orang-orang dari gunung tompu, bbulili, bolovatu, kalinjo, dan lando. Banyak pendapat mengatakan nama loru berasal dari jenis kayu yang tumbuh di desa loru yang bernama kayu loru, tetapi yang sebenarnya nama loru ini berasal dari bahasa ledo asli yaitu natantoru ( Kotor).

Pada waktu itu masyarakat yang berasal dari pengunungan itu belum mengenal kebersihan, merekapun belum bisa membaca, pakaiannya saja masih menggunakan kulit kayu, daun-daun dan kulit bintang. Mereka juga nelum mengenal agama, juga pendidikan dan terutama masalah kebersihan masyarakat loru belum mementingkannya, seperti membersihkan tubuh (mandi) biasanya satu sampai dua bulan sekali mandi. Maka berdasarkan peristiwa tersebut, maka masyarakat yang tinggal di wilayah itu sepakat memberi nama loru artinya manusia itu danaloru pakaingguna.

Adapun yang menjabat sebagai pemimpin pertama kali adalah Tadulako yang bernama Tumbulangi yang bertugas memimpin, mengatur serta membentuk Pemerintahan dan digantikan oleh Palrante, ia menjabat sebagai Kepala Kampung selama 20 Tahun pada zaman kerajaan dan penjajahan belanda kemudian dlanjutkan oleh ;

Manu, Thoma Siti Ruyu Pilantina Suhuri, Lara Wasa (1926-1942), Tanggia (1942-1968), Sarma Dana (1968-1971), Lakapa (1971-1973), Tanggia (1973-1977), Hamdi (1977-1984), Lakapa (1984-1991), Nasar (1991-1998), Hamsu (1998-2001), Irsan (2001-2002), Hamsu (2002-2008), Kadir (2008-2014) , Syahrin Maradjati (2015-2020) dan Agus Prianto,S.Sy,2023- sampai sekarang).

Agama yang dianut yaitu mayoritas agama islam yang berjumlah 2.434 orang, kristen protestan berjumlah 153 orang dan agama hindu berjumlah 14 orang. Adapun sarana atau rumah adat yang dimiliki Desa Loru adalah Sou Eo (yang dikenal dengan sebutan rumah matahari) yang ssetiap bagian bangunannya memiliki makna dan fungsi yang berbeda. Funsi Rumah Adat Sou Eo adalah :

1.      Tempat berkumpul para Tua Adat untuk membicarakan pembangunan

2.      Tempat untuk membicarakan kegiatan adat tanah kaili, dan

3.      Tempat untuk menegakkan hukum adat bagi mereka yang melanggar hukum adat.

Demikian sejarah singkat desa ini kami buat dengan benar digunakan sebagaimana perlunya.


Sumber : DISINI

Jumat, 16 Mei 2025

Sejarah Desa JONO OGE


 

Senin, 03 Maret 2025

Sejarah Desa POMBEWE

 


Sejarah Desa Pombewe

          Sejarah Desa Pombewe dimulai dengan cerita atau legenda tentang adanya kerajaan Nabulili dengan Kalinjo dan kerajaan Sigi yang berada di Desa Bora Cerita turun-temurun terus dilakukan orang tua kepada anak-anaknya tidak lepas dari sejarah beberapa kerajaan tersebut, salah satunya adalah kerajaan Nabulili yang berarti sentral dunia (tatanga nu dunia) merupakan kerajaan yang amat makmur, kaya, dan rakyatnya sejahtera. Akibat perselisihan, terjadilah peperangan (posi patesi) mengakibatkan kerajaan Bulili mengalami kehidupan yang tidak tenteram. Dalam pemerintahannya, kerajaan Nabulili memiliki beberapa panglima (Tadulako) yang dikenal sampai sekarang antara lain Mokeku, Mantaili, Toroboku, dan Mantante. Pada zaman itu raja Nabulili memiliki hubungan baik dan sangat erat dengan Raja Sigi, singkat sejarah terjadi perselisihan antara kedua Raja tersebut karena rasa dendam dan perebutan kekuasaan terjadilah peperangan atau posi patesi yang mana kerajaan Sigi memerintahkan panglima dan prajurit Toindate yang  berasal dari Kulawi untuk merampas kekayaan yang ada dikerajaan bulili namun panglima dan prajurit dari Toindate dapat dihalau oleh Empat Panglima (Tadulako) dari kerajaan Nabulili mengejar rombongan tersebut hingga salah seorang dari prajurit Toindate berhasil dibunuh oleh Mokeku dan Mantaili yang bernama Sidagi, lalu dari sinilah awal dari berdirinya Desa Pombewe yang konon ceritanya bahwa usus atau isi perut dari prajurit Sidagi dilingkar disebuah pohon yang bernama pohon Tui (Bahasa Kaili Ledo) sehingga secara turun-temurun cerita dari tempat tersebut dinamakan Pombewe Tailiko (Gulung Tali Usus).


Sumber : DISINI

۞ PETA LOKASI Rumahku ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞